Resimen Senapan ke-95 dan Resimen Senapan ke-60 menjadi pasukan yang pertama kali mengadopsi warna loreng. Mereka memakai seragam loreng pada perang Napoleon untuk menguatkan garis pertahanan Inggris.
Ketika tentara musuh mengenakan seragam merah tua, mereka mengenakan jaket berwarna hijau. Seiring berjalannya waktu seragam warna loreng semakin populer, terutama pada Perang Dunia II.
Selain itu tentara harus mengenakan busana bercorak loreng demi keperluan penyamaran, terutama untuk menghindari pantauan musuh. Mereka melakukan kamuflase yang merupakan salah satu teknik pertahanan, yakni mengacu pada metode yang digunakan untuk membuat pasukan militer agar tidak dapat terdeteksi oleh pasukan musuh.
Penerapan warna dan bahan untuk kostum perang dan peralatan militer juga digunakan untuk menyembunyikan para musuh dari pengamatan visual. Dengan menggunakan kostum bermotif loreng maka pasukan militer bisa menyatu dengan medannya serta mengurangi bahaya sebagai sasaran tembak musuh.
Bila melihat kembali ke era zaman dulu, kala itu pasukan militer tidak menggunakan busana bermotif loreng. Mereka menggunakan warna yang mencolok dan terkesan berani untuk menakuti para musuh.