Usia perempuan yang menjadi responden rata-rata adalah 26 tahun, sementara rata-rata usia suami adalah 33 tahun.
Batasi pergerakan
Mayoritas responden menganut agama Hindu dan berasal dari kasta rendah. Sekitar 60% punya sawah dan hampir 70% responden tinggal bersama mertua perempuan.
Para peneliti antara lain mengajukan pertanyaan tentang jaringan sosial responden, baik di kalangan anggota keluarga maupun teman di luar rumah. Ditanyakan pula seberapa besar pengaruh mertua perempuan terkait jaringan sosial ini.
Yang juga masuk daftar pertanyaan adalah apa dampak pengaruh mertua perempuan terhadap akses ke layanan kesehatan.
Hasilnya, perempuan yang tinggal bersama mertua perempuan cenderung tak bebas bergerak dan menghadapi kendala ketika membanguan koneksi sosial di luar rumah.
Kebebasan bergerak ini penting karena menentukan derajat kekayaan informasi, jumlah teman yang bisa dibangun, dan tingkat kepercayaan diri.
Selain itu, keputusan tentang kesehatan, kesuburan dan keluarga berencana sedikit banyak dipengaruhi oleh jaringan yang berhasil dibangun.
Namun hampir 36% perempuan yang disurvei tidak punya kawan dekat atau anggota keluarga di distrik tempat mereka tinggal.
Dan 22% mengaku tak punya kawan dekat di mana pun. Hanya 14% yang diizinkan bepergian sendirian ke fasilitas kesehatan dan hanya 12% yang dibolehkan mengunjungi kawan atau famili di desa mereka "tanpa ditemani suami".
Di luar suami dan mertua perempuan, rata-rata perempuan yang disurvei hanya berinteraksi dengan kurang dari dua orang di Jaunpur.
Para peneliti mengambil sampel dua kelompok perempuan, yaitu yang hidup bersama mertua perempuan dan yang tidak, dan membandingkan dua sampel ini terkait jumlah kawan dekat dan anggota keluarga.
Kawan dekat antara lain didefinisikan sebagai orang yang diajak bicara oleh perempuan ketika mengambil keputusan tentang kesehatan, kesuburan, dan keluarga berencana.
Hasil survei memperlihatkan, mereka yang hidup bersama mertua perempuan, 18% lebih sedikit punya kawan dekat di desa mereka.