Mertua perempuan membatasi jaringan sosial dengan tidak mengizinkan menantu mengunjungi kawan "sebagai bagian dari upaya untuk mengontrol kesuburan dan perilaku yang terkait dengan keluarga berencana".
Soal jumlah anak
Kadang mertua menginginkan lebih banyak anak, lebih spesifik lagi anak laki-laki, dari yang direncanakan sang menantu.
Sekitar 48% mengatakan, mertua perempuan mereka tidak setuju jika mereka ikut keluarga berencana.
Jika suami adalah pekerja migran, maka mertua perempuan punya kontrol lebih besar terkait pergerakan, interaksi, mobilitas, otonomi dan pengambil keputusan menantu.
"Perempuan yang punya sedikit teman dekat biasanya punya peluang lebih kecil untuk mengunjungi fasilitas kesehatan untuk mendapatkan layanan kesehatan dan layanan keluarga berencana," kata peneliti yang berasal dari Universitas Boston, Delhi School of Economics, Universitas Northeastern University, dan Boston College.
Para responden di India ini mengaku punya kurang dari dua kawan atau anggota keluarga di daerah mereka.
Sebagai perbandingan, rata-rata perempuan di Amerika Serikat memiliki setidaknya delapan teman dekat menurut survei Gallup pada 2004.
Di India, dari yang disurvei, hanya 33% yang punya telepon genggam. Artinya lebih dari 60% tak bisa mengandalkan hubungan jarak jauh dengan kawan melalui perangkat telekomunikasi.
Hidup bersama mertua perempuan tidak selamanya berdampak negatif.
Sejumlan kajian menemukan bahwa keberadaan mertua perempuan bisa sangat berarti ketika menantu hamil dan melahirkan.
Namun secara umum, para peneliti meyakini, kehadiran mertua perempuan secara signifikan menggerus otonomi perempuan.
(Nanda Aria)