"Yaitu agar tidak terjadi keterkejutan budaya atau culture shock ketika kelak menghadapi perubahan yang sangat signifikan. Itu bisa jadi pada awalnya dirasakan sebagai suatu kondisi sosio-kultura yang sangat beda dengan kondisi sebelumnya, " kata Rian.
Oleh karena itu perlu adanya penyiapan sosial agar warga setempat tak teralienasi atau proses menuju keterasingan. Yaitu sebagai dampak hadirnya tata kehidupan baru di lingkungan hidupnya.
"Agar mereka kelak tak terpinggirkan dalam dinamika yang terjadi di tempat hidupnya yang telah generatif di PPU dan daerah-daerah sekitarnya," ucap Rian.
Rian mengatakan LKTN lahir dari proses diskusi kultural serta berangkat dari niat dan itikat untuk menjadi salah satu entitas yang peduli akan eksistensi IKN yang sedang menyongsong masa baru peradaban Nusantara.
"Kami ingin mengarusutamakan media seni budaya nusantara sebagai strategi kebudayaan dalam menyongsong Indonesia Emas 2045 dan kebangkitan kembali peradaban nusantara," tutup Rian.
Sementara itu tokoh muda Kutai Kartanegara Ronal J Warsa, mengatakan masyarakat lokal merasakan banyak manfaat dari pembangunan infrastruktur IKN Nusantara.
"Katakanlah pembangunan jalan dan jembatan baru yang dapat mempersingkat waktu tempuh perjalanan darat," ucap Ronal.
(Fahmi Firdaus )