JAKARTA – Salah satu kemampuan prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) adalah terjun free fall dan melakukan infiltrasi ke jantung musuh secara senyap untuk sabotase.
Brigjen TNI Rafael Granada Baay yang baru ditunjuk Panglima TNI Laksamana Yudo Margono menjadi Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Danpaspampres) membagikan kisahnya nyaris tewas saat terjun free fall di Prancis.
Rafael menceritakan kisahnya itu saat masih berpangkat kolonel dan menjabat Komandan Korem (Danrem) 074 /Warastratama.
(Baca juga: Sosok Brigjen Rafael Granada Baay, Perisai Hidup Jokowi Ahli Intelijen Tempur Kopassus)
Saat itu, Jenderal Kopassus ini masih berpangkat Letnan Kolonel dan bertugas di Detasemen Intelijen (Denintel) Komando Pasukan Khusus (Kopassus ).
"Ada satu pengalaman yang membuat nyawa saya diujung tanduk. Bukan di medan perang, melainkan saat terjun bebas atau free fall," ujar Rafael.
Dikatakan Rafael, Satuan Kopassus mendatangi undangan dari negara Prancis. Dia diundang oleh pasukan khusus Perancis yang disebut GIGN (Groupe d’Intervention de la Gendarmerie Nationale).
Mantan Komandan Grup (Dangrup) 2 Kopassus Kandang Menjangan, Kartasura, Surakarta itu ditawari untuk terjun free fall bersama perwira tinggi GIGN. Tanpa menunggu waktu, Rafael langsung mengiyakan ajakan tersebut.
"Dia nawarin terjun dengan ketinggian 12.000 feet. Langsung saya iyakan," ujar Arbituren Akademi Militer 1993.
Rafael mengakui saat itu tidak memperhitungkan jika kondisi saat musim dingin. Padahal, terjun dengan ketinggian 12.000 feet pada musim dingin bisa bersuhu -2 sampai -9 derajat celcius.
"Terjun dengan suhu serendah itu sangat membahayakan. Mampu membekukan darah sehingga membahayakan penerjun. Saya tidak memperhitungkan sampai sejauh itu saat itu, saat itu bondo nekad saja," katanya.
Namun nasib baik masih berpihak kepadanya. Saat terjun di ketinggian itu, baru terasa efek ketika keluar dari pesawat terbang. Tubuh terasa kaku dan pernafasan juga sesak.