Raja Mataram itu pun terpikat dan ingin memperistrinya. Roro Hoyi pun diboyong ke keraton Mataram. Namun karena dianggap belum cukup dewasa, Roro Hoyi lebih dulu dititipkan kepada Bei Wirorejo.
Hoyi mendapat pelajaran etika. Ia diajari bagaimana menerapkan laku unggah-ungguh di lingkungan keraton Mataram.
Masalah timbul ketika Pangeran Tejaningrat, putra Amangkurat I diam-diam juga menaruh hati kepada Roro Hoyi. Ia ingin memperistrinya. Namun begitu tahu Hoyi adalah calon istri ayahnya, niatnya diurungkan.
Akibatnya Tejaningrat jatuh sakit. Tahu hal itu Pangeran Pekik merasa iba. Ia tidak tega melihat cucunya sakit gara-gara asmara yang tidak terlaksana. Diam-diam ia kawinkan Tejaningrat dengan Roro Hoyi.
“Mengingat Tejaningrat adalah anak Amangkurat I sendiri, Pangeran Pekik menduga jika Amangkurat I akan maklum dengan pernikahan Tejaningrat dan Roro Hoyi”.
Pangeran Pekik salah besar. Amangkurat I yang murka justru menuduhnya telah melakukan persekongkolan untuk merongrong tahta Mataram. Akibatnya Pangeran Pekik dihukum gantung di alun-alun hingga tewas.
Begitu juga dengan Bekel Bei Wirorejo, pengasuh Roro Hoyi juga digantung sampai mati. Sementara Tejaningrat putranya mendapat hukuman menghabisi Roro Hoyi.
Tejaningrat tak kuasa menolak perintah raja yang notabene ayah kandungnya. Gadis yang dicintainya itu tewas di tangannya. Sejak peristiwa itu, Tejaningrat diangkat menjadi Adipati Anom.
Amangkurat I merupakan Raja Mataram yang menjadi sekutu kompeni Belanda. Pemerintahannya diwarnai banyak pemberontakan. Yang paling besar adalah pemberontakan Trunojoyo, di mana Amangkurat I sampai keluar istana.
Amangkurat I meninggal dunia dalam pelarian di wilayah Banyumas, Jawa Tengah. Ia mendapat julukan sebagai Sunan Tegalarum atau Tegalwangi.
(Awaludin)