JAKARTA - Perjuangan Rakyat Semesta atau Permesta merupakan gerakan militer di Indonesia yang menuntut otonomi daerah dan menolak pemerintahan Indonesia yang sentralistik di Pulau Jawa.
Gerakan ini meluas ke daerah lain di Sulawesi dan berlangsung hingga 1960. Markas Permesta awalnya di Makassar, kemudian pindah ke Manado.
Dilansir beragam sumber, Sabtu (14/2/2026), saat itu Pemerintah melancarkan operasi militer untuk menumpas Permesta dengan mengirim Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang sekarang dikenal dengan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dan Korps Komando Operasi (KKO) yang kini menjadi Korps Marinir.
Kedua Pasukan elite tersebut berhasil menguasai Manado dan wilayah-wilayah yang dikuasai Permesta. Termasuk Gunung Potong di Manado yang merupakan basis pertahana Permesta.
Gunung Potong terletak diantara Bukit Conggaan dan Patahan. Susunan pertahanannya berlapis-lapis di antara bukit berbatu, di setiap lubangnya terdapat senjata berat, dan medannya sangat menguntungkan musuh. Pasukan Permesta di Gunung Potong dipimpin oleh Mayor Permesta Yan Timbuleng.
Komando Operasi Merdeka mengirim satu tim RPKAD dibawah pimpinan Letnan A. Kodim dan KKO yang dipersenjatai artileri dan kavaleri.
Namun, rencana penyerangan gagal dikarenakan medan yang berat dan jurang-jurang yang dalam, padahal sasaran tinggal 100m lagi. Dengan kegagalan itu, RPKAD menyusun ulang rencana dalam 4 hari untuk melakukan raid penghancuran ke Gunung Potong.
Satu Peleton pasukan RPKAD dibawah pimpinan Sersan Mayor Soetarno yang dibantu satu kompi KKO dan seorang penunjuk jalan menjalankan operasi tersebut pada 2 September 1958.
Tim RPKAD berjalan melalui jalan yang tidak akan diperkirakan oleh musuh. Di mana jalan tersebut penuh semak belukar dengan medan jurang berbatu, ditambah lagi dalam keadaan gelap gulita, Pada pukul 2 pagi, pasukan sampai pada pertahanan Permesta, namun karena adanya gonggongan anjing Permesta, mereka berhenti sementara dan berbalik menuju bukit yang paling tinggi.