Kondisi saat itu semakin rumit ketika VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) menguatkan pengaruhnya dengan berhasil merebut Malaka dari Portugis pada awal 1641.
Kemampuan Sulthanah Shafiatuddin Saat Memimpin
Sulthanah Shafiatuddin terpilih menjadi pemimpin karena kemampuan dan potensi yang dia miliki.
Perempuan itu memiliki visi cemerlang dalam menyebarkan Islam serta mengembangkan kebudayaan dan seni dalam masyarakat Islam di Aceh.
Saat terjadi Perang Malaka pada 1639, Sulthanah Shafiatuddin sebagai pemimpin kerajaan membentuk sebuah barisan perempuan untuk menguatkan benteng istana.
Dia juga sukses membangkitkan kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam yang sempat redup semasa dipimpin oleh suaminya. Mulai dari kemajuan ekonomi, agama, hukum, seni dan budaya, hingga ilmu pengetahuan.
Salah satu yang terkenal dalam masa kepemimpinannya adalah mengenai tradisi pemberian hadiah berupa tanah untuk pahlawan perang.
Masa pemerintahan Sulthanah Shafiatuddin juga dinilai sangat bijak. Dia berhasil mempertahankan hubungan diplomasi dengan kerajaan-kerajaan lain sehingga nama besar Kesultanan Aceh Darussalam tetap terjaga.
Sepeninggalan Sulthanah Shafiatuddin
Sulthanah Shafiatuddin wafat pada 1675 setelah memimpin selama 34 tahun. Dia pun tidak memiliki keturunan, tetapi pernah mengangkat tiga perempuan untuk meneruskan tahtanya.