Pameran instalasi seni cahaya dalam Yuejin Lantern Festival ini mencoba membuka perspektif baru di era pandemi, yaitu tubuh fisik yang dibatasi.
Para creator seni mencoba menerobos permukaan struktur konseptual dengan pengalaman tunggal yang tidak dimodifikasi. Menggunakan intuisi untuk merasakan keberadaan objektif ruang daripada mengidentifikasinya. Prosesnya akan menjadi ambigu, dan definisi ruang tampaknya jauh dari permukaannya tetapi semuanya berdiri sendiri.
Hal itu terlihat pada karya pertama yang dimunculkan di area pertama. Begitu memasuki area festival, pengunjung langsung disambut dengan instalasi lampu berbentuk dua bola mata tiga dimensi di tengah perairan. Bola mata akan terus menatap pengunjung dari berbagai posisi pengunjung melalui pencahayaan tersebut.
Kami terus menjelajahi area festival di tepi sungai yang telah dipasangi gerakan cahaya kontemporer yang bercerita tentang keindahan bulan mengiringi harapan akan kehidupan yang lebih baik di masa depan.
Bagi masyarakat setempat, bulan sabit sering dipandang sebagai simbol kesucian, kekuatan dan kehidupan. Di era pasca pandemi, setiap orang ingin memiliki bulan sendiri, simbol harapan masa depan yang dapat diberikan kepada semua orang melalui anugerah seni.