JAKARTA - Soegito kecil bermimpi untuk dapat menempuh pendidikan di Akademi Militer (Akmil). Mimpi ini berhasil diwujudkan. Bahkan pangkat Letnan Jenderal (Letjen) disandang Soegito.
Meski begitu, perjalanan Jenderal Kopassus untuk dapat meraih mimpinya tidaklah mudah. Banyak hal dikorbankan Soegita untuk mewujudkan impiannya.
Mengutip buku Letjen (Purn) Soegito, Bakti Seorang Prajurit Stoottroepen, Rabu (1/3/2023), dikisahkan informasi terkait pendidikan di Akademi Militer (Akmil) masih sangat terbatas. Saat itu namanya masih Akademi Militer Nasional (AMN) dan bermarkas di Magelang, Jawa Tengah.
Karena masih terbatasnya akses informasi saat itu, tidak banyak yang mengetahui keberadaan AMN di Magelang. Secara kebetulan mereka yang tinggal di Pulau Jawa dan lebih khusus lagi di sekitar Jawa Tengah, sedikit mendapat kelebihan informasi dibandingkan yang berada di luar wilayah tersebut.
Selain faktor kedekatan, sebenarnya informasi soal AMN bisa diperoleh lewat koran. Markas Besar Angkatan Darat kala itu juga sudah cukup sadar publikasi, sehingga pengumuman soal penerimaan taruna juga bisa diperoleh lewat bioskop. Ya tentu hanya bagi mereka yang suka menonton film.
Beruntung untuk Soegito muda, ia sejak lama memang suka menonton film di layar lebar. Soegito dapat melihat berita penerimaan taruna AMN, dalam tayangan berdurasi pendek itu. Sekolah militer dengan dibiayai oleh negara menjadi kesempatan yang terlalu menarik untuk dilewatkan.
Batinnya sepakat untuk mencari peruntungan dengan menjadi taruna AMN. Dengan informasi yang sangat terbatas itu, ia dan beberapa temannya di SMA berniat menjadi tentara. Celakanya, semua proses seleksi untuk masuk ke AMN di Magelang diadakan di Semarang. Proses seleksi berlangsung sebelum ada pengumuman hasil ujian akhir SMA. Bolak-balik ke Semarang tidak hanya menyita waktu, tapi juga menguras isi kantong.
Dengan uang saku yang selalu pas-pasan dan kadang kurang, Soegito memang harus bisa mengatur sendiri keuangannya, agar ketika dibutuhkan bisa langsung berangkat ke Semarang.
Ia kemudian pulang ke Cilacap untuk meminta restu orang tua. Soegito dipanggil bapaknya. Sambil memberi nasihat dan wejangan layaknya orang tua kepada anaknya, Pak Soeleman lalu menyuruhnya mengambil selembar daun sirih dan gelas diisi air putih.
"Gito, ini daun sirih kamu gulung. Lalu kamu potong tiga kali persis di atas gelasnya," ucap bapaknya.