Sementara terkait keraguan atas peran Soeharto, pernah disampaikan mantan Wali Kota Yogyakarta, Kanjeng Pangeran Harjo (KPH) Soedarisman. Namun pernyataan itu langsung pula ditanggapi Soeharto ketika sudah menjabat Presiden RI kedua 1985 lalu.
“(Apakah Soedarisman) tidak percaya jika inisiatifnya seorang Komandan Brigade (Soeharto)? Tanyakan saja pada yang masih hidup. Sebab Pak Dirman (Jenderal Soedirman) dan Bambang Soegeng sudah meninggal,” timpal Soeharto dalam buku yang sama.
“Yang masih hidup kan Jenderal (Abdoel Haris) Nasution dan Sri Sultan (HB IX). Kalau dia (Soedarisman) ragu bahwa inisiatifnya dari seorang Komandan Brigade, tanyakan pada yang bersangkutan, yang masih hidup. Apakah pernah memberi komando Serangan Umum 1 Maret atau tidak,” tandasnya.
Perdebatan ini juga turut ditanggapi aktivis penggiat sejarah Djokjakarta 45, Eko Isdianto, bahwa soal perancang serangan, mungkin Sultan HB IX memang tak punya pengalaman militer. Tapi kalau soal ide masih terbilang diragukan, antara Sultan HB IX atau Soeharto.
“Masih (diragukan) soal ide. Ide untuk mengadakan serangan serentak. Waktu itu, hanya radio milik Sultan di Keraton yang enggak di-sweeping (Belanda) dan radio itu bisa menjangkau siaran-siaran luar negeri,” papar Eko kepada Okezone.
“Nah, dari siaran-siaran propaganda Belanda, mereka menganggap serangan yang dilakukan (pejuang) dilakukan oleh ekstremis dan rampok. Dari radio itu Sultan juga mengetahui rencana kedatangan staf PBB yang akan datang pada akhir Februari sampai awal Maret (1949),” tambahnya.
“Sultan kemudian menitipkan surat yang isinya perlu diadakan serangan serentak umum dan menyeluruh ke Yogyakarta ke Pak Dirman yang berada di Sobo, Pacitan, lewat dokter pribadi Pak Dirman, Dr. Hutagalung. Kemudian perencanaan matang dilakukan Kolonel Bambang Soegeng, Hutagalung, Bupati Wonosobo dan Banyumas,” tandas Eko.
(Nanda Aria)