JAKARTA - Belanda berniat mendirikan negara boneka di Papua, dulu disebut Irian Barat. Pemerintah Indonesia tidak tinggal diam akan hal ini.
Pasukan Gerak Tjepat (PGT) yang kini bernama Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) TNI Angkatan Udara dikerahkan untuk membebaskan Irian Barat atau Papua dari cengkeraman Belanda.
Presiden Soekarno mengendus niat Belanda mendirikan negara boneka di Irian Barat. Soekarno mengutus Adam Malik untuk bertemu perwakilan Belanda terkait hal itu pada 1961.
“Dam, saya mau berikan opdracht (perintah) supaya kami bertemu wakil Belanda. Saya ingin tahu apa Belanda benar mempunyai keinginan untuk menyelesaikan masalah Irian Barat,” ujar Soekarno dilansir dari buku ‘Maria van Engels’, Senin (27/2/2022).
Awal Desember pada tahun yang sama di Bonn (Jerman Barat), perundingan berlangsung. Namun sayangnya, perundingan “dicederai” penyampaian resolusi kepada Dewan Keamanan (DK) PBB dari Menteri Luar Negeri Belanda, Joseph Luns, yang berniat memisahkan Irian Barat dari Indonesia.
Mendengar hal itu, Soekarno melantangkan seruan, “Gagalkan usaha Belanda mendirikan Negara Papua!”. Soekarno pun menegaskan sebelum ayam jantan berkokok pada 1 Januari 1963, Irian Barat sudah harus dibebaskan dari Belanda!
Tri Komando Rakyat (Trikora) pun digagas dengan merancang Komando Mandala. Sejumlah operasi digelar, termasuk penerjunan 54 anggota Pasukan Gerak Tjepat (PGT), (cikal bakal Kopasgat) di Teminabuan pada 19 Mei 1962.
Pasukan itu terjun tepat di atas tangsi Belanda. Kontak senjata langsung terjadi.
Kendati dua prajurit gugur, yaitu Kopral Udara II Alex Sangido dan Wangko, pasukan Belanda yang terkejut memilih mundur ke wilayah Kota Teminabuan.
Setelah konsolidasi segenap pasukan penerjun dilakukan dengan mengumpulkan 40 personel di Kampung Wersar, Sersan Udara II Mengko melahirkan inisiatif untuk para pasukannya menebang pohon untuk dijadikan tiang kayu. Bendera merah putih pun dikeluarkan dari ranselnya untuk dikibarkan pada 21 Mei 1962.
Hal itu jadi momen perdana bendera merah putih berkibar di tanah Papua, meski sedianya mereka masih belum lepas dari aksi pertempuran dengan Belanda. Tak berapa lama, pasukan Belanda mulai dibantu kekuatan udara mereka.
Pesawat pembom Lockheed Neptune dan pesawat pemburu Fairey Firefly merongrong posisi pasukan Mengko, hingga terpencar jadi beberapa grup kecil. Beberapa personel PGT tertawan, di antaranya Prajurit Udara I Kardi, Kopral Udara II Ngatijan, Kopral Udara II Hadi Suprapto, Kopral Udara I Radar dan Kopral Udara II Basri.
Sementara itu sisa personel PGT mengundurkan diri dan terus mendapat serangan dari Belanda hingga ikut tertawan pada 22 Juni 1962. Mereka baru dibebaskan pada September 1962 lewat perjanjian pemerintah dengan Belanda.
(Erha Aprili Ramadhoni)