JAKARTA - Sarwo Edhie Wibowo, seorang tokoh militer Indonesia berpangkat Jenderal ternyata juga memiliki lika-liku yang menyedihkan dalam kariernya. Pada awal tahun 1968, Jenderal Sarwo Edhie Wibowo pernah diwacanakan untuk menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Uni Soviet.
Dikutip dari sebuah buku berjudul “Sarwo Edhie dan Misteri 1965”, disebutkan bahwa pada saat wacana pengangkatan Sarwo Edhie sebagai Dubes RI untuk Uni Soviet terdengar ke diri dan keluarga sang Jenderal, suasana rumah dinas seketika berubah dari ceria menjadi hening dan suram.
Hal tersebut dibuktikan dengan pernyataan Ani Yudhoyono yang merupakan anak dari Jenderal Sarwo Edhie Wibowo. Ani sering kali melihat ayahnya itu sedih sekaligus melamun di teras depan rumah dinasnya.
"Kalau aku memang mau dibunuh, bunuh saja. Tapi jangan dengan cara seperti ini (dijadikan sebagai Dubes RI untuk Uni Soviet),” ujar Ani Yudhoyono menirukan perkataan bapaknya kepada ibunya yang dikutip dalam buku berjudul Sarwo Edhie dan Misteri 1965.
Kesedihan dan keputusasaan Jenderal Sarwo Edhie dalam menanggapi wacana tersebut bukanlah tanpa alasan. Ketidakcocokan latar belakang sekaligus ideologi menjadi penyebabnya. Sarwo Edhie yang merupakan seorang militer dan dikenal sebagai penumpas komunis, bagaimana mungkin menjadi Dubes untuk Uni Soviet yang berpaham komunis sangat kuat.
Selain itu, Jenderal Sarwo Edhie juga merasa batinnya terpukul atas wacana tersebut. Sang Jenderal merasa tugas ke Negeri Beruang Merah tak lebih dari ledekan semata. Terlebih dirinya baru saja menjabat selama 5 bulan sebagai Panglima Kodam II Bukit Barisan.
Namun, pada akhirnya Jenderal Sarwo Edhie tidak jadi mengemban tugas sebagai Dubes RI untuk Uni Soviet. Tugas tersebut dibatalkan oleh pemerintah pada saat itu. Sebagai gantinya, Sang Jenderal digeser menjadi Panglima Kodam XVII Cenderawasih, Irian Barat.
Sekadar diketahui, sebelum direncanakan menjadi Dubes RI untuk Uni Soviet dan dijadikan sebagai Panglima Kodam XVII Cenderawasih, Sarwo Edhie menjabat sebagai Panglima Kodam II Bukit Barisan di Kota Medan, Sumatera Utara. Pengangkatan Sarwo tersebut dilaksanakan pasca Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) melengserkan Presiden Soekarno pada Maret 1967.
Dalam tugasnya sebagai Panglima Kodam II Bukit Barisan, Sarwo Edhie dikenal tegas dan berani menumpas hal-hal yang ia nilai tidak benar. Seperti misalnya melakukan pembekuan aktivitas PNI Medan dan menindak penyelundupan di Pelabuhan Belawan.
(Khafid Mardiyansyah)