BAGHDAD - Dua dekade lalu, tepatnya pada 2003, Amerika Serikat (AS) menginvasi Irak serta menjatuhkan rezim pemerintahan Presiden Saddam Hussein. Washington pada saat itu menuduh Baghdad memiliki senjata pemusnah massal atau weapons of mass destruction (WMD), sehingga AS dan para sekutunya merencanakan invasi ke Irak dan akhirnya timbul peperangan.
Benarkah Irak memiliki WMD? Berikut fakta-fakta terkait Invasi AS ke Irak dan WMD tersebut:
1. Senjata pemusnah massal atau WMD adalah hoaks
Isu adanya WMD di Irak sebagai alasan AS dan para sekutu melakukan invasi kepada Irak adalah bualan semata. AS dinilai menggunakan dalih tersebut guna menggulingkan Presiden Saddam Hussein.
Mengutip Washington Post, kesimpulan dari keberadaan senjata pemusnah massal di Irak adalah tidak ada. Fakta ini dikuatkan oleh berbagai investigasi, salah satunya dari pemerintah AS sendiri, yakni National Intelligence Estimate (NIE)
Selain itu, kabar ketidakbenaran adanya WMD di Irak juga dikonfirmasi langsung oleh Presiden AS saat itu, George Walker Bush. Pada tahun 2004 di Gedung Putih, Bush mengatakan Irak tidak memiliki senjata pemusnah massal.
Menurutnya, ada kesalahan pada sebagian besar laporan intelijen AS tentang keberadaan senjata nuklir, kimia, dan biologi Irak.
2. Invasi AS ke Irak bukan karena isu WMD tetapi minyak
Menurut John S. Duffield dalam Oil and the Decision to Invade Iraq (2012), keberadaan WMD hanya akal-akalan AS untuk menjatuhkan kekuasaan Saddam dan menguasai sumber daya alam Irak, khususnya minyak bumi.