2. Kemal Idris
Pada waktu kepemimpinan Soeharto, awalnya Kemal Idris menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis (Pangkostrad) dengan pangkat Mayor Jenderal. Namun, Kemal didepak dari Jakarta dengan dijadikan sebagai Panglima Komando Antardaerah Wilayah Indonesia Timur (1969) dan Duta Besar RI untuk Yogoslavia (1972).
Kemal didepak Soekarno karena dinilai berhasil menenangkan kaum muda di wilayah timur Indonesia dan Kemal terlalu populer di sana. Popularitas tersebut dikhawatirkan dapat mengancam kekuasaan saat itu. Apalagi dahulu Kemal pernah menentang keras Soekarno, dan bukan tidak mungkin hal itu akan dilakukannya pada Soeharto.
Pada jabatan barunya sebagai Duta Besar RI untuk Yugoslavia sebenarnya Kemal tidak senang dan mencoba menghadap Soeharto untuk negosiasi pemindahannya kembali ke dalam negeri. Namun, hal tersebut ditolak mentah-mentah oleh Soeharto.
3. Hartono Rekso Dharsono
Mayor Jenderal HR Dharsono sebelum didepak merupakan seorang Panglima Kodam Siliwangi. Namun, pada 1969 jabatan itu lengser, Dharsono secara tiba-tiba dijadikan Duta Besar RI untuk Thailand oleh Soeharto.
Dharsono didepak karena pada waktu itu mengusulkan pemangkasan jumlah partai dan menggantinya dengan dua partai baru berbasis kesatuan aksi dan generasi muda. Ide Dharsono itu menuai beberapa penolakan dari berbagai pihak, termasuk Soeharto.
Berikutnya, Dharsono dilarang Soeharto membicarakan lagi gagasannya itu dan ia semakin diasingkan oleh Jakarta. Padahal, dulu Dharsono beserta Kemal dan Sarwo merupakan orang yang berjasa menghancurkan Orde Lama dan mengantarkan lahirnya Orde Baru pimpinan Soeharto.
(Erha Aprili Ramadhoni)