JAKARTA - Pada 1966 dengan dikeluarkannya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) menandakan riwayat Orde Lama alias era pemerintahan Soekarno berakhir dan digantikan Orde Baru pemerintahan Soeharto.
Pada masa transisi tersebut, Soeharto banyak dibantu para jenderal TNI Angkatan Darat dalam menumpas Orde Lama dan menjadikannya presiden di Orde Baru.
Ibarat kacang lupa kulit, Soeharto malah mendepak jenderal-jenderal yang telah membantunya. Hal itu dilakukan karena beberapa alasan, misalnya karena sudah tidak sejalan, takut menjadi saingan politik, dan lain sebagainya.
Mengutip buku seri Tempo berjudul "Sarwo Edhie dan Misteri 1965", ketika itu ada tiga orang jenderal yang didepak dari orbit elite Jakarta.
Berikut nama-nama jenderal yang didepak Soeharto:
1. Sarwo Edhie Wibowo
Sarwo sebelum didepak dari Jakarta ketika itu merupakan seorang Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD). Sarwo berhasil menumpas PKI dan mengakhiri riwayat orde lama, sehingga membuat nama dan popularitasnya melambung.
Namun, ada desas-desus yang mengatakan kalau dia akan melengserkan Soeharto dari kursi kepemimpinan negara. Mendengar isu tersebut, Soeharto langsung mendepak Sarwo ke luar Jakarta dengan menjadikannya Pangdam di Kota Medan pada 1967.
Tak hanya itu, ketika menjabat sebagai pangdam di Kota Medan, Sarwo dinilai bertentangan dengan Soeharto soal penumpasan PNI. Imbas dari hal tersebut membuat Sarwo didepak lagi ke ujung Indonesia yakni Irian Barat dengan menjadi Pangdam di sana pada 1968 hingga 1970.