JAKARTA - Kabar mengejutkan didapat Raja Mataram Sultan Amangkurat I membuatnya melakukan ekspansi ke Blambangan atau kini disebut Banyuwangi. Kala itu Blambangan memang diinformasikan baru takluk dari orang-orang Bali, serbuan itu membuat Tawang Alun bertekuk lutut ke orang Bali.
Amangkurat I pun memutuskan untuk melakukan serangan ke Blambangan. Saat itu sang raja menunjuk pamannya Pangeran Purbaya untuk memimpin pasukan melawan orang-orang Bali tersebut.
Namun sebagaimana dinukil dari "Disintegrasi Mataram : Dibawah Mangkurat I" Pangeran Purabaya ini dengan halus menolak, sehingga kemudian timbul masalah, siapakah yang dianggap cukup mampu untuk itu. Pangeran Purbaya mengelak menjawab.
Sunan lalu berpaling kepada Tumenggung Wiraguna, dan memerintahkan kepadanya untuk bersiap-siap memimpin perlawanan terhadap orang Bali, Tumenggung Danupaya harus menyertainya. Tumenggung Mataram akan memimpin rakyat semua daerah pantai dan akan bergerak melalui laut.
Lalu diikuti dengan penuturan kisah tentang keberangkatan barisan yang meriah dan semarak. Naskah kuno Serat Kandha menambahkan pula bahwa kedua panglima itu membawa serta meriam-meriam Mataram. Sedangkan menurut Babad Tanah Djawi menyatakan, adipati Sampang sampai harus menyediakan prajurit.
Pasukan dari darat itu tiba di suatu daerah pada perbatasan Pasuruan, kecuali Tumenggung Wiraguna dan Tumenggung Danupaya. Sementara orang-orang Bali telah bergabung dengan rakyat Blambangan, yang berdiri di garis terdepan melindungi orang-orang Bali.
Pemimpin mereka adalah lurah Jabana dan Panji Pati, dimana menurut Serat Kandha dikatakan Panji Wanengpati. Sedangkan Tawang Alun dan Wiranegara memimpin garis belakang. Mula-mula pihak Mataram mundur, tetapi karena siasat Wiraguna, mereka menang lagi.
Ki Rangga gugur melawan Bang Wetan, Panji Pati pun tewas. Suatu pertempuran sengit terjadi antara Jabana dan Citrayuda dari Ponorogo, dan yang terakhir ini gugur. Akhirnya orang Bali dan rakyat Blambangan melarikan diri, Wiranegara lari ke jurusan timur laut.
Setelah berunding selama satu malam, Tawang Alun dan Wiranegara memutuskan untuk menyeberang ke Bali. Segala apa yang ditinggalkan dirampok. Lebih dari 1.500 cacah dibawa serta oleh pihak Mataram. Wiraguna sendiri ketika menerima berita tentang meninggalnya Pangeran Aria Alit, menjadi sangat terkejut.
Ia bertekad lebih baik gugur di medan pertempuran daripada kembali pulang. Diputuskan untuk mengejar rakyat Blambangan sampai ke Bali. Karena itulah dilakukan penyeberangan ke sana.
Panji Arungan mempertahankan daerah pantai. Akhirnya muncul pula Tumenggung Mataram dengan armada perangnya, dan terjadilah pertempuran sengit di laut. Panji Arungan tewas, kepalanya dipenggal dan kapalnya dikuasai.
(Khafid Mardiyansyah)