Memasuki hari ketiga, pejuang kelahiran Kemayoran 1928 itu kembali diiterogasi Letnan Leo. Pertanyaan yang dilayangkan terhadap Edi masih sama.
Saat seluruh pakaiannya diperiksa, ditemukanlah kartu pelajar HIS di salah satu saku pakaiannya.
“Pas dilihat kartu sekolah HIS saya itu, kengototannya baru mencair. Saya akhirnya dibolehkan pulang setelah tiga hari ditahan. Tapi sebelumnya, saya minta surat jalan untuk pulang. Karena kan di mana-mana banyak Belanda,” katanya.
“Saya pulang ke Cikampek dari Bogor dari gerobak kereta (kereta barang.red). Di setiap stasiun yang dilewati, diperiksa tentara NICA. Wah, itu mereka ganas-ganas banget dah. Kalau lihat orang pakai pin merah putih, disuruh telan itu pinnya. Kalau enggak mau, dihantam popor kepalanya,” imbuhnya.
Berbekal surat jalan tersebut, Edi Somad,selamat sepanjang perjalanan. Kemudian, dirinya kembali bergabung dengan induk pasukan Siliwangi.
Bahasa Belanda dikuasai Edi karena dirinya pernah mengenyam pendidikan HIS (Hollandsch-Inlandsche School) di Bogor. Edi berkesempatan makan bangku sekolah Belanda karena ayahnya bekerja di maskapai pelayaran Belanda.
Sedangkan bahasa Jepang, Edi belajar ketika Jepang menduduki Hindia Belanda sejak 1942. Edi ikut pendidikan Heiho Rikugun (Pembantu Tentara Angkatan Darat Jepang) selama enam bulan.
(Arief Setyadi )