Mbah Suro kerap kepercayaan Djawa Dipa dan kerap melakoni kegiatan berbau mistis. Ia juga kerap memberikan mantera kepada muridnya agar keba senjata tajam dan senjata api.
Hendro mengisahkan dalam bukunya, Kopassus berusaha meringkus Mbah Suro. Namun, terpaksa menggunakan kekerasan karena gagal menggunakan jalan damai.
"Pangdam terpaksa memerintahkan agar penutupan dilakukan dengan jalan kekerasan, karena segala upaya jalan damai yang ditempuh telah menemui jalan buntu," tulis Hendro.
Padepokan Mbah Suro diserbu Kodam VII/ Diponegoro beserta satu Kompi RPKAD (Sebelum berganti nama menjadi Kopassus) di bawah pimpinan Feisal Tanjung. Mbah Suro pun berhasil ditaklukkan dalam penyerbuan tersebut.
(Arief Setyadi )