Kahar sempat menjadi pagar hidup buat Soekarno pada rapat raksasa Ikada di Jakarta, 19 September 1945. Dengan bersenjatakan golok, Kahar menjadi satu-satunya pengawal Soekarno dan Hatta, melindungi dwi tunggal ketika rapat dibubarkan tentara Jepang.
Sejak saat itu, Kahar jadi pengawal kesayangan Bung Karno yang tergabung dalam Batalyon Kesatuan Indonesia (BKI). Bahkan, Soekarno mengatakan bahwa situasinya takkan melulu tenteram jika tak ada Kahar di sisinya.
Seiring berjalannya revolusi mempertahankan kemerdekaan, APIS pimpinan Kahar dileburkan ke dalam Kebaktian Rakjat Indonesia Sulawesi (KRIS). Kahar yang ikut mendirikan KRIS, turut membesarkan kesatuan itu dengan mendirikan berbagai cabang KRIS di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
KRIS di bawah komando Kahar berperan dalam pembebasan 800 tahanan politik di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Para tahanan itu dimasukkanke dalam pasukan KRIS Kahar dan diperbantukan di Markas Besar Tentara.
Namun, setelah Indonesia mulai membentuk angkatan bersenjata yang lebih profesional, Tentara Republik Indonesia, nama Kahar perlahan mulai tersingkirkan.
Dalam pembentukan Brigade XVI KRIS yang terdiri dari kesatuan-kesatuan luar Pulau Jawa, Kahar hanya jadi orang nomor dua. Kahar yang kecewa, menolak pengakuan pimpinan Brigade XVI, yang mulai dijabat para perwira eks KNIL, Warouw sampai Lembong.