Kertosudiro berstatus duda saat menikahi Sukirah. Ia memiliki nama lahir Wagiyo, namun di Kemusuk akrab dipanggil Panjang.
Pada saat pernikahan yang pertama, namanya bersalin menjadi Kertorejo. Pernikahan yang dikarunia dua orang anak, yakni laki-laki dan perempuan itu tak bertahan lama. Pasangan suami istri itu bercerai. Kertorejo mengganti nama menjadi Kertosudiro saat menikahi Sukirah yang berstatus lajang.
Kehadiran bayi laki-laki itu membuat Kertosudiro girang. Bayi yang masih merah itu digendongnya. Mendapatkan anak laki-laki yang sehat dan kuat sebagaimana bayi-bayi lain di kampung Kemusuk, membuatnya bahagia.
“Ya, saya selalu mengharapkan anak laki-laki. Tuhan mengabulkan permintaan kita. Kita mesti bersyukur kepadaNya, dan seminggu lagi kita adakan selamatan untuk memberi nama," ucapnya.
Di Kemusuk, Kertosudiro dikenal sebagai sosok sederhana yang penampilannya selalu njawani. Ia selalu mengenakan baju adat Jawa, lengkap dengan kain panjang serta blangkon di kepala.