JAKARTA - Tepat hari ini, 21 Juni 1970, Presiden Soekarno meninggal pada umur 69 tahun. Kesehatan Soekarno sudah mulai menurun sejak bulan Agustus 1965. “Putra Sang Fajar” (julukan Soekarno) tutup usia setelah lima tahun berjuang melawan gangguan organ ginjal kirinya.
Namun dalam masa akhir hayatnya itu, si Bung Besar menjadi pesakitan sebagai tahanan politik dan hidup “terpenjara” di Wisma Yaso (kini Museum Satria Mandala, Jakarta), sempat dilarikan ke RSPAD karena kondisinya yang gawat.
Tapi nyawanya tak tertolong. “Sang Penyambung Lidah Rakyat” menghembuskan napas terakhirnya. Segenap rakyat yang sedianya dilarang menghadiri prosesi iring-iringan jenazah Soekarno, seolah tak menanggapi imbauan pemerintah yang kala itu sudah di bawah rezim Soeharto.
Saat itu, isak tangis pasang mata yang tak terhingga jumlahnya menyertai konvoi mobil jenazah Soekarno dari Wisma Yaso menuju Bandara Halim Perdanakusuma untuk kemudian, diterbangkan ke Blitar, Jawa Timur, di mana Soekarno diputuskan Presiden Soeharto, dimakamkan di samping mendiang ibunda, Ida Ayu Nyoman Rai.
Kabar duka ini ternyata tidak hanya disoroti masyarakat dan media nasional. Sejumlah surat kabar asing pun ikut memberitakan kematian pria yang punya pengaruh besar di antara memanasnya Perang Dingin antara Blok Barat vs Blok Timur tersebut.
Dari media-media Asia hingga Amerika Serikat (AS), kabar kematian Bung Karno jadi perhatian publik internasional. Seperti yang diberitakan Sarasota Journal, surat kabar asal Florida.