JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan prediksi bahwa hujan masih berpotensi terjadi di wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan. Meskipun, saat ini sebanyak 51% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
Sebelumnya, BMKG telah menyampaikan terkait peluang terjadinya El Nino dengan level lemah hingga kuat yang secara umum dapat berdampak pada berkurangnya curah hujan di wilayah Indonesia. Namun, dalam sepekan terakhir curah hujan tinggi yang menyebabkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor masih sering terjadi. Lalu, kondisi dinamika atmosfer apa yang mempengaruhi kondisi tersebut?
BACA JUGA:
Prakirawan Cuaca BMKG, Marlin Denata mengatakan berdasarkan hasil analisis perkembangan musim kemarau per Dasarian I Juni 2023 sebanyak 51% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau yang meliputi wilayah Aceh bagian timur, Sumatera Utara bagian timur dan barat, Riau bagian timur, Bengkulu bagian selatan Lampung bagian selatan.
“Kemudian di Banten, DKI Jakarta, sebagian besar Jawa Barat, sebagian besar Jawa Tengah, sebagian besar wilayah Jawa Timur, sebagian besar Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian Gorontalo, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian kepulauan Maluku, sebagian Maluku Utara, dan sebagian Papua bagian selatan,” kata Marlin dalam laporan video BMKG, dikutip Sabtu (24/6/2023).
BACA JUGA:
Marlin pun mengatakan secara umum puncak musim kemarau 2023 di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi terjadi pada bulan Juli hingga Agustus 2023. “Meskipun saat ini sebagian besar wilayah Indonesia berada pada musim kemarau, namun dinamika atmosfer harian menunjukkan kondisi yang labil sehingga mengakibatkan potensi pertumbuhan awan hujan menjadi signifikan di beberapa wilayah Indonesia.”
Dia mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan masih tingginya curah hujan di beberapa wilayah Indonesia dalam sepekan terakhir antara lain yang pertama yaitu aktifnya fenomena Madden Julian Oscillation atau MJO di wilayah Indonesia. “Aktifnya MJO di wilayah Indonesia berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia,” kata Marlin.