JAKARTA - Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun alami pendarahan otak dan dikabarkan tak sadarkan diri. Saat ini budayawan kondang ini dirawat di RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta.
Kondisi Cak Nun yang terbaring sakit dan dirawat di RSUP Dr Sardjito juga dibenarkan oleh Anggota Fraksi PKB DPR Luqman Hakim.
"Mari berdoa, semoga Allah Ta’ala memberi kesembuhan, kesehatan dan keadaan terbaik untuk Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang dirawat di ICU RS Dr Sardjito,”ujar Luqman Hakim dikutip di media sosialnya, Kamis (6/7/2023).
“Jalan pencerahan Cak Nun, telah diikuti jutaan manusia. Langit gelap ia robek-robek hingga cahaya Cinta terpancar ke bumi. Alfatihah," tulis Lukman.
Tokoh yang Kritis saat Orde Baru
Cak Nun termasuk salah satu tokoh masyarakat yang vokal dan kritis kepada Soeharto. Ia sering kali menempatkan diri dalam oposisi langsung melawan pemerintahan Orde Baru.
Perjuangannya melawan segala bentuk ketidakadilan Orde Baru mencapai titik puncaknya tahun 1998. Reformasi 1998 merupakan episode perjalanan Republik Indonesia yang melibatkan banyak pihak dan elemen masyarakat Indonesia.
Menjelang kejatuhan pemerintahan Soeharto, Cak Nun merupakan salah satu tokoh dari sembilan tokoh yang diundang ke Istana Merdeka untuk dimintakan nasihatnya, yang kemudian celetukannya diadopsi oleh Soeharto berbunyi "Ora dadi presiden ora pathèken” (tidak jadi presiden tidak apa-apa).
Sembilan tokoh masyarakat diterima Soeharto di Istana Merdeka saat itu adalah Cak Nur, Cak Nun, Gus Dur, Ahmad Bagja, KH. Cholil Baidowi, K.H. Ali Yafie, K.H. Ma’ruf Amin, Malik Fadjar, dan Sumargono.
Dilansir beragam sumber, setelah Reformasi 1998, Cak Nun bersama Gamelan KiaiKanjeng memfokuskan berkegiatan bersama masyarakat di pelosok Indonesia. Aktivitasnya berjalan terus dengan menginisiasi Masyarakat Maiyah, yang berkembang di seluruh negeri hingga mancanegara.
Profil Cak Nun
Emha Ainun Nadjib memiliki nama lengkap Muhammad Ainun Nadjib. Dia merupakan salah satu tokoh keagamaan, penyair, dan budayawan yang terkenal.
Cak Nun lahir di Menturo, Sumobito, Jombang, Jawa Timur pada 27 Mei 1953 dari pasangan Muhammad Abdul Latief dan Halimah. Dia merupakan putra keempat dari lima belas bersaudara.