Mereka yang selama ini sebagai sumber logistik PKI dan termasuk jaringan pembinaan ideologi di tengah massa rakyat, terungkap. Seluruh rakyat mulai ragu dan tidak mempercayai lagi gerombolan PKI yang sudah lama menguasainya.
Semakin terlihat sekaligus bisa dibedakan mana sel musuh dan mana pasukan Perjuangan Bersenjatanya (Perjuta) yang merupakan tenaga inti Detasemen Gerilya. Dengan menamai Operasi Kolomonggo, pasukan TNI bersama Banser NU terus merangsek maju ke wilayah yang dikuasai PKI. Orang-orang PKI yang menolak menyerah, digilas.
Dalam baku serang di kawasan Gunung Asem Panggungrejo, Oloan Hutapea terbunuh. Dedengkot PKI itu ambruk dan tewas setelah lemparan batu besar mengenai kepalanya. Pada 15 Juni 1968, Ir Soerachman juga tewas tertembak di kawasan hutan Desa Maron. Surachman sudah diperingatkan untuk menyerah, namun nekat kabur. Bedil Kopda Soepono mengakhiri hidupnya. Surachman merupakan pimpinan PNI ASU (Ali Sastroamidjojo-Surachman) yang berafiliasi dengan PKI.
Di dalam tas hitam yang bersama mayatnya, ditemukan radio transistor, kacamata kir, sikat gigi, cincin emas, garuk jenggot, bolpoin, tape recorder dan buku kaum buruh sedunia bersatulah dengan gambar Mao Tse Tung. Pada 20 Juli 1968, Batalyon Infantri 511 berhasil menangkap Rewang hidup-hidup di Sumberjati, Kademangan.
Ruslan Widjajasatra Ketua Politbiro PKI Gaya Baru Blitar Selatan tertangkap 13 Juli 1968 di Kaligrenjeng. Hanya selisih sehari, yakni 14 Juli 1968, Ketua Departemen Perjuangan Bersenjata (Perjuta) Munir ditangkap di Dukuh Jembangan.
Perang urat syaraf dengan seruan 3 M, yakni Membantu, Menyerah atau Mati terbukti ampuh. Banyak kader PKI Blitar Selatan yang sudah terkepung akhirnya memutuskan menyerah. Operasi Trisula selama 90 hari di sepanjang tahun 1967-1968, berhasil menumpas PKI Gaya Baru Blitar Selatan. Sebanyak 57 pimpinan PKI mulai tingkat CC (Pusat), CDB (Provinsi), CS (Kabupaten) hingga CSS (Kecamatan) ditangkap hidup dan mati.
Operasi yang dipimpin Kolonel Witarmin berhasil menyita 43 pucuk senjata api dengan berbagai jenis, 20 peralatan senjata api, termasuk radio dan mesin ketik, serta 135 perkakas lainnya. Untuk mencegah terulangnya peristiwa kebangkitan PKI di Blitar Selatan, TNI menempatkan anggotanya sebagai caretaker di pemerintahan mulai tingkat kecamatan hingga desa.
"Jelas bahwa akibat kegiatan PKI telah banyak menimbulkan kerugian dan korban di kalangan rakyat, yang sebenarnya tidak mengerti dan hanya dipengaruhi untuk membantu gerombolan PKI," kata Kolonel Inf Witarmin dalam Operasi Trisula Kodam VIII/Brawidjaja.
(Arief Setyadi )