JAKARTA – Ahli Forensik Kombes dr Sumy Hastry Purwanti atau akrab disapa dokter Hastry masuk dalam tim eksekusi mati Freddy Budiman, gembong narkoba kelas kakap.
Pada 29 Juli 2016 silam, dokter Hastry masih ingat eksekusi mati yang dilakukan terhadap Freddy Budiman. Eksekusi dilakukan di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.
Detik-detik menjelang eksekusi mati, suasana Pulau Nusakambangan hening tanpa terdengar suara apapun. Freddy Budiman tewas di tangan regu tembak dari Brimob Polda Jawa Tengah.
“Sampai terakhir 2016, yang kita ketahui mungkin Freddy Budiman ya, kita latihan juga,” ujar Hastry dilansir dari channel Denny Darko beberapa waktu lalu.
Dokter Hastry menceritakan, bahwa sehari sebelum dilakukan eksekusi mati, ia mengecek kondisi dan kesehatan Freddy Budiman. Baru kemudian, Freddy Budiman dibawa Tim Brimob untuk disiapkan dan dibawa ke tempat eksekusi.
“Latihannya dengan Tim Brimob juga, jadi bagaimana mereka mau dieksekusi persiapannya, pakaian baju, diiket, ditaruh di tiang, kita laporan, saya sebagai tim dokternya, naro titik tembaknya biar jelas karena kan dilakukan di malam hari, napi diberikan baju putih dan titik tembaknya hitam, jadi dipersiapkan seperti itu,” ujarnya.
Ia ingin merawat para terpidana mati itu termasuk Freddy Budiman dalam keadaaan baik hingga sampai diterima keluarganya. Setidaknya dokter Hastry menjalankan tugas dan terpidana mati menerima hukuman karena kesalahan mereka.
“Dari beberapa napi tuh ada yang benar-benar ikhlas (hukuman mati), baik, dzikir, termasuk Freddy Budiman itu misalnya,” ujarnya.
Hastry sendiri pertama kali masuk tim eksekusi mati di Nusakambangan pada 2008. Di mana, ia menjadi tim eksekusi mati pelaku Bom Bali.
Adapun Freddy Budiman divonis mati oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Barat karena terbukti mengimpor 1.412.476 butir ekstasi dari China pada Mei 2012 silam.
(Arief Setyadi )