Bahkan, kata Mahfud, 56 persen masyarakat khawatir akan terjadi perpecahan atau polarisasi dalam pelaksanaan pemilu.
"Bentuknya itu tadi, fitnah kebohongan pencemaran nama baik bahkan politik identitas. Saya selalu mengatakan Politik identitas itu berbahaya bagi kehidupan bangsa dan bernegara, berbeda dengan identitas politik," katanya.
Politik identitas itu, sambungnya, beda dengan identitas politik, setiap orang punya identitas politik punya ikatan primordial. "Agama islam, kristen, katolik. Suku madura, jawa, bugis, batak itu identitas. Ras melayu, cina, arab dan sebagainya. Nah itu identitas," katanya.
Lantas, apakah memiilih berdasarkan identitas itu tidak boleh? "Boleh. Tetapi jangan itu menjadi hal yang utama apalagi dijadikan alat untuk mendiskriminasi orang lain," kata Mahfud MD.
(Angkasa Yudhistira)