JAKARTA - Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo menghadiri istighosah dan pengajian umum Jam’iyyah Ahlith Thariqah aI-Muktabarah an-Nahdliyah (Jatman) di Rembang, bebrapa waktu lalu. Dalam kesempatannya, Ganjar juga meminta maaf dan berpamitan sebagai gubernur kepada ulama dan warga Rembang.
Pengamat komunikasi, Wahyuningsih Subekti menilai bakal capres Ganjar Pranowo merupakan sosok yang tegas dan memahami nilai-nilai budaya dan menjunjung etika sopan santun.
“Ganjar menghadiri istighosah dan pengajian umum Jatman di Rembang, suatu langkah yang tepat. Di dalam acara tersebut beliau berpamitan kepada para kiai karena pada tanggal 5 September nanti beliau selesai masa jabatannya sebagai gubernur,” ujar Wahyuningsih, Kamis (10/8/2023).
Wahyuningsih berkata Ganjar tidak ujug-ujug datang dan pergi tanpa pamitan ataupun tanpa memperkenalkan diri. Ibarat peribahasa datang tampak muka, pulang tampak punggung.
“Pak Ganjar mendapatkan restu dan doa untuk kesuksesannya dari Kiai Haji Zikron Abdillah. Apalagi setelah itu Pak Ganjar sowan ke Nyai Muchsinah Cholil, selaku ibunda dari Ketum PBNU Gus Yahya Cholil Staquf,” ujarnya.
Menurut Wahyuningsih, kehadiran Ganjar di tengah Jatman dan silaturahmi kepada ibunda Ketum PBNU itu sangat cocok dengan strategi komunikasi untuk menyambut kontestasi capres ke depan. Sebab, dia berkata kekuatan dari NU dan para ulama tidak bisa abaikan untuk kontestasi capres ke depan.
Dikatakannya, Ganjar juga memilih strategi untuk mendekatkan diri kepada masyarakat melalui para tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat. Sebab diketahui opinion leader merepresentasikan opinion publik.
“Sikap sopan santun, terus rendah hati, memanusiakan manusia, menghormati sesepuh, dan memahami nilai-nilai budaya dari bangsa yang akan dipimpin itu merupakan ciri-ciri dari seorang Ganjar Pranowo, di samping sikapnya yang tegas dalam memberantas korupsi dan perilaku-perilaku menyimpang lainnya,” Wahyuningsih.
Selain i itu, Wahyuningsih berharap masyarakat memilih pemimpin bangsa Indonesia yang tidak hanya tegas, tetapi juga santun.
“Dan yang paling penting adalah memahami nilai-nilai budaya bangsa Indonesia, di mana kita cenderung lebih mengutamakan adalah datang tampak muka, pulang tampak punggung, menghormati para sesepuh dan juga yang pasti harus rendah hati,” ujar Wahyuningsih.
(Angkasa Yudhistira)