Beliau merupakan penyandang disabilitas tunarungu yang harus memakai alat bantu dengar di kedua telinganya, ia mengobrol dengan cara membaca gerak bibir lawan bicaranya.
Wanita kelahiran Medan pada 5 Mei 1987 ini awalnya lahir secara normal, namun saat usia 10 tahun indra pendengarannya mulai menghilang.
Angkie selalu berpindah-pindah rumah mengikuti orang tuanya. Ia pernah tinggal di Medan, Ambon, Ternate, Bengkulu, Surabaya, Bogor, dan Jakarta.
Saat itu, sekolah luar biasa masih sulit ditemukan. Hal ini membuat Angkie harus bersekolah di sekolah umum.
“Bisa banyangin nggak susahnya akses pendidikan jaman dulu, aku harus berhadapan dengan mata pelajaran yang sama dengan yang lainnya, aku harus berhadapan dengan teman-teman umum lainnya, aku harus mengerti dan memahami apa yang guru omongin itu berat banget kan,” Ucap Angkie, dalam Indonesia Maju, Kamis (17/7/2023).
Meskipun memiliki kendala dalam menjalani pendidikannya, ia tetap berhasil menyelesaikan pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi. Ia menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas di SMA Negeri 2 Bogor, dan lanjut berkuliah di fakultas komunikasi di London School of Public Relations Jakarta.
“Tapi Alhamdulillah aku bisa melewati fase-fase itu karena biar bagaimanapun pendidikan adalah jendela dunia. Orang tuaku selalu berpesan dan mengatakan bahwa seorang perempuan harus berpendidikan tinggi terlepas kamu disabilitas atau tidak karena yang bisa menyelematkan diri kamu di masa depan adalah kamu sendiri, kami orangtua hanya mengantarkan dan membimbing kamu,” ungkapnya.
(Khafid Mardiyansyah)