JAKARTA - Sejarah pemberontakan Republik Maluku Selatan selalu menarik untuk dibahas hingga saat ini. Pasca kemerdekaan Indonesia, negara ini harus menghadapi banyak konflik internal.
Baik itu dalam tubuh pemerintahan Indonesia sendiri hingga munculnya gerakan pemberontakan di sejumlah wilayah. Salah satu aksi pemberontakan yang masih dikenang sepanjang sejarah adalah Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS).
Dilansir dari berbagai sumber, Kamis (31/8/2023), sejarah pemberontakan RMS dilatarbelakangi keinginan sejumlah pihak untuk mempertahankan Negara Indonesia Timur atau NIT sebagai negara federasi. Ditambah lagi saat itu situasi politik di Maluku sedang tidak menentu, terutama setelah berakhirnya Konferensi Meja Bundar atau peralihan dari RIS ke NKRI.
Gerakan separatis tersebut diproklamirkan pada 25 April 1950 dengan Dr Christian Robert Steven Soumokil sebagai dalang di baliknya. Mantan Jaksa Agung di Negara Indonesia Timur ini memiliki sebuah pemikiran yang menyebabkan masyarakat Ambon terpecah menjadi dua kelompok, yakni kelompok republik yang berpihak pada Indonesia dan kelompok federalis atau pro-Belanda.
Diketahui pada 13 April 1950, Dr Soumokil melakukan rapat dengan berbagai pihak di Ambon dan 10 hari setelahnya ia kembali melakukan rapat rahasia. Rapat tersebut melahirkan gagasan untuk mendirikan RMS dan proklamasi akan dilakukan oleh J. H Manuhutu selaku Kepala Daerah Maluku Selatan.
Lalu pada 25 April 1950, proklamasi RMS pun dilaksanakan dengan mengumumkan jajaran pemerintahan dimana J.H Manuhutu menjadi presiden dan Albert Wairisal sebagai Perdana Menteri.
Adapun jajaran menteri lainnya yakni, Dr. Soumokil, D.j. Gaspersz, J. Toule, S.J.H Norimarna, J.B Pattiradjawane, P.W Lokollo, H.F Pieter, A. Nanlohy, Dr.Th. Pattiradjawane, Ir.J.A. Manusama, dan Z. Pesiwarissa.
Ketika Tim Kopassus Pantau Kegiatan HUT Republik Maluku Selatan di Belanda
Setelah itu pada 27 April 1950 Dr. J.P Nikijuluw ditunjuk sebagai Wakil Presiden RMS yang berkedudukan di Den Haag, Belanda. Namun menariknya, pada 3 Mei 1950 posisi presiden digantikan oleh Dr. Soumokil.
Angkatan Perang RMS (APRMS) pun dibentuk pada 9 Mei 1950 dengan Sersan Mayor KNIL D.J Samson sebagai panglima tertinggi.
Pemerintah Indonesia pusat sebenarnya sudah mengutus Dr. J. Leimena untuk menyelesaikan pemberontakan tersebut. Namun upaya damai gagal hingga akhirnya pemerintah mengutus pasukan ekspedisi yang dipimpin oleh A. E. Kawilarang.
Singkatnya, kota Ambon akhirnya berhasil dikuasai oleh NKRI pada November 1950. Namun dalam perebutan Benteng Nieuw Victoria, Indonesia harus kehilangan Letnan Kolonel Slamet Riyadi.
Kendati demikian, perjuangan terus dilakukan hingga pada 12 Desember 1963 saat Dr Soumokil berhasil ditangkap. Berdasarkan keputusan Mahkamah Militer Luar Biasa, Soumokil akhirnya dijatuhkan hukuman mati dan pemberontakan RMS pun resmi berhenti.
Demikian sejarah pemberontakan Republik Maluku Selatan serta latar belakangnya.
(Hafid Fuad)