Kisah PKI Rampas Tanah Muslimat NU Surabaya dan Kocar-kacir Digebuk GP Ansor

Solichan Arif, Jurnalis
Senin 04 September 2023 18:27 WIB
Illustrasi (foto: Okezone)
Share :

SURABAYA - Bulan September dalam sejarah politik Indonesia menyimpan peristiwa besar dengan puncaknya tragedi G30SPKI. Suhu politik nasional di sepanjang bulan September terus memanas.

Jelang tahun 1965 pertikaian antara massa Pemuda Rakyat, BTI dan Gerwani dengan Ansor NU meletus di Surabaya. Pertikaian dipicu ulah segerombolan Pemuda Rakyat, BTI dan Gerwani yang tiba-tiba menduduki tanah milik Muslimat NU.

Dengan berpatokan kebijakan landreform, tanah yang berlokasi di tengah kota Surabaya itu, mendadak dikuasai para kader PKI (Partai Komunis Indonesia)

“Tanah milik Muslimat NU itu langsung dipagari dan dipasang bendera PKI,” demikian dikutip dari buku Benturan NU PKI 1948-1965 (2013).

Pada pemilu parlemen tahun 1955, partai NU di Surabaya meraih suara terbanyak, yakni 431 suara.

Berdasarkan catatan buku Pemilihan Umum 1955 di Indonesia (1971), perolehan suara terbesar kedua diraup oleh PNI (Partai Nasionalis Indonesia), yaitu 265 suara.

Posisi ketiga ditempati PKI dengan perolehan 231 suara dan Masyumi sebanyak 117 suara. Meski berada di urutan tiga besar, Wali Kota Surabaya saat itu merupakan kader PKI.

Hal itu yang membuat para kader dan simpatisan PKI di Surabaya bersikap lebih berani, yakni termasuk dengan seenaknya menguasai tanah milik Muslimat NU.

“Keberanian PKI ini tumbuh karena Wali Kota Surabaya saat itu adalah pilihan PKI sehingga menjadi pembela PKI yang gigih”.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya