GUNUNG Bromo menjadi perhatian beberapa hari terakhir karena ulah wisatawan yang menyalakan flare, sehingga membakar lahan wisata andalan di Indonesia ini. Gunung setinggi 1.868 Mdpl ini memiliki cerita turun menurun mengenai sosok Rara Anteng dan Jaka Seger.
Konon di antara para pengikut Prabu Brawijaya setelah Kerajaan Sengguruh jatuh, Rara Anteng tidak ikut serta Sang Prabhu mengungsi ke Panarukan, tetapi memisahkan diri menuju Gunung Brama.
Di sana ia kawin dengan putra seorang brahmana bernama Jaka Seger. Dari perkawinan itu lahir Purbawisena Mangkurat di Tengger. Nama Tengger berasal dari perpaduan nama Rara Anteng dan Jaka Seger, sebagaimana dikutip dari "Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit".
Kawasan Wisata Gunung Bromo Terbakar, Perindo: Keteledoran yang Tak Bisa Ditolerir
Sosok Roro Anteng sendiri dipercaya sebagai keturunan Kerajaan Majapahit dan titisan dewa yang memiliki paras cantik. Konon Kiai Bimo yang diberikan syarat untuk membuat lautan sebelum fajar tiba.
Namun usaha itu gagal karena Roro Anteng sengaja membangunkan Ayam Ayam berkokok. Membuat Kiai Bimo percaya bahwa fajar telah tiba, sehingga ia sangat marah dan melemparkan sebuah batu besar yang tengkurap, saat ini dikenal dengan Gunung Batok.
Pernikahan Roro Anteng dan Joko Seger begitu bahagia, tetapi sayang mereka tak kunjung diberi anak. Mereka kemudian bertapa di gunung dan mendengar bisikan gaib bahwa mereka akan diberikan anak namun dengan syarat anak terakhir harus dikorbankan ke kawah gunung.
Viral Kepulan Asap Membumbung Tinggi saat Kebakaran Gunung Bromo
Mereka menyanggupi syarat tersebut. Setelah bertahun-tahun Joko Seger mendapatkan mimpi untuk menepati janjinya, ia memiliki 25 anak dan anak terakhirnya bernama Jaka Kesuma. Sosok Jaka Kesuma memiliki paras tampan, pintar dan cerdik.
Setelah bermimpi untuk mengorbankan diri oleh sang ayah agar tidak terkena sial, dengan bijaksana Jaka Kesuma menyanggupi demi keluarga dan masyarakat. Beramai-ramai Jaka Kesuma diantar ke kawah Gunung Bromo lalu ia menceburkan diri. Namun sebelum menceburkan diri ia sempat berucap untuk minta diberikan hasil panen terbaik setiap tanggal 14 bulan Kasada.
Nama Gunung Bromo sendiri berasal dari kepercayaan warga umat Hindu di sekitar. Masyarakat percaya bahwa Gunung Bromo meninggalkan jejak Dewa Brahma, selain itu mereka percaya bahwa Gunung Bromo adalah tempat bersemayam dewa yang melindungi mereka yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa.
(Qur'anul Hidayat)