TUNGGUL Ametung sang penguasa Tumapel sebelum menjadi kerajaan konon pernah meminta tolong ke brahmana. Hal ini dilakukan karena kekacauan yang terjadi di wilayah Tumapel. Saat itu, memang kondisi keamanan tengah dalam ujian luar biasa.
Konon beberapa aksi pemberontakan, pencurian, dan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) serta konflik terjadi. Hal ini membuat Tunggul Ametung selaku penguasa Tumapel di bawah wilayah Kediri mendatangi para brahmana, tak terkecuali Lohgawe yang dianggap musuhnya sendiri.
Kepada para brahmana Tunggul Ametung meminta Lohgawe dan brahmana lainnya turun tangan. Sempat diwarnai perdebatan antara penguasa Tumapel yang egois itu dengan sang penguasa. Namun berhasil ditengahi oleh Balakangka, sang penasehat agama istana Tumapel.
Balakangka sebagai salah satu wakil dari pejabat kerajaan sangat berharap pendeta Lohgawe untuk bersedia menggunakan pengaruhnya, untuk meredam kerusuhan yang sedang terjadi itu, sebagaimana dikutip dari "Hitam Putih Ken Arok : Dari Kejayaan hingga Keruntuhan".
Tunggul Ametung kemudian menambahi bahwa jika pendeta Lohgawe bersedia, dan mau membantu Tumapel untuk meredam aksi kerusuhan itu, maka dirinya sebagai akuwu Tumapel, akan memberikan hadiah besar. Namun pernyataan Tunggul Ametung ini segera dijawab oleh Lohgawe, bahwa para brahmana atau golongan pemuka agama tidak menginginkan badiah apapun dari penguasa.