Israel Tarik Semua Diplomatnya dari Turki, Naikkan Peringatan ke Tingkat 4

Rahman Asmardika, Jurnalis
Jum'at 20 Oktober 2023 13:48 WIB
Protes Pro-Palestina di depan Konsulat Isrel di Istanbul, Turki, 18 Oktober 2023. (Foto: Reuters)
Share :

TEL AVIV - Israel menarik semua diplomatnya dari Turki pada Kamis, (19/10/2023) termasuk Duta Besar Irit Lillian, beberapa hari setelah menaikkan peringatan perjalanannya ke tingkat tertinggi, menurut berbagai sumber.

Dewan Keamanan Nasional Israel (NSC) mengeluarkan peringatan untuk tidak melakukan perjalanan ke Turki pada Selasa, (17/10/2023) dengan alasan kekhawatiran bahwa wisatawan Israel mungkin menjadi sasaran.

Mereka mendesak semua warga negara Israel di Turki untuk meninggalkan negara mereka itu sesegera mungkin setelah menaikkan peringatan perjalanan mereka ke tingkat tertinggi, yakni empat, demikian diwartakan Middle East Eye (MEE).

Tiga sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan kepada MEE bahwa para diplomat tersebut pergi pada Kamis karena masalah keamanan dan bukan karena krisis diplomatik antara kedua negara.

Salah satu sumber mengatakan bahwa penasihat NSC Israel tidak membedakan para diplomat tersebut dari warga negara Israel pada umumnya, dan telah meminta semua warga Israel untuk pergi.

MEE menghubungi Kementerian Luar Negeri Israel untuk memberikan komentar tetapi permintaan tersebut ditolak.

NSC pada Selasa menyarankan warga Israel untuk melakukan semua tindakan pencegahan yang diperlukan seperti meminimalkan kehadiran mereka di ruang publik dan menghindari pertemuan.

Demonstrasi telah mencengkeram Istanbul dan Ankara dalam beberapa hari terakhir, dengan demonstrasi terjadi di luar kantor perwakilan Israel di kedua kota tersebut, setelah 13 hari serangan udara di Gaza, sebuah daerah kantong kecil yang menampung lebih dari 2,3 juta warga Palestina.

Israel mulai membom Gaza pada 7 Oktober ketika pejuang Palestina melancarkan serangan mendadak terhadap Israel, yang menewaskan lebih dari 1.400 orang.

Serangan udara balasan Israel telah menewaskan lebih dari 3.500 warga Palestina, termasuk lebih dari 1.500 anak-anak dan 1.000 wanita. Sekira satu juta orang terpaksa mengungsi dan terpaksa berlindung di rumah sakit dan sekolah ketika Israel memperketat pengepungannya terhadap daerah kantong tersebut.

Sejak konflik meletus, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah berulang kali menawarkan diri untuk menjadi perantara dan membantu negosiasi untuk mengakhiri permusuhan.

Hubungan antara Israel dan Turki membaik akhir tahun lalu ketika kedua negara bertukar duta besar setelah bertahun-tahun menjalin kerja sama keamanan dan intelijen.

Hubungan antara keduanya pertama kali memburuk pada 2011 ketika Turki mengusir duta besar Israel setelah laporan PBB mengenai serangan Israel terhadap kapal bantuan Mavi Marmara ke Gaza pada tahun 2010, yang menewaskan sembilan warga negara Turki.

Keretakan tersebut teratasi pada 2016 ketika hubungan diplomatik dipulihkan sepenuhnya dan kedua negara mengirim duta besar.

Ketegangan kembali terjadi pada 2018 ketika pasukan Israel membunuh sejumlah warga Palestina yang ikut serta dalam protes Great March of Return di Gaza. Para pengunjuk rasa menuntut penerapan hak kembali pengungsi dan diakhirinya pengepungan yang melumpuhkan Gaza.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya