Detik-Detik Menegangkan Penemuan Jasad Pahlawan Revolusi di Sumur Maut Lubang Buaya

Arief Setyadi , Jurnalis
Sabtu 21 Oktober 2023 05:09 WIB
Pengangkatan jasad Pahlawan Revolusi di sumur tua, Lubang Buaya, Jakarta Timur (Foto: Ist)
Share :

JAKARTA - Gerakan 30 September 1965 oleh Partai Komunis Indonesia (G30SPKI), peristiwa kelam yang menimpa bangsa Indonesia. Banyak nyawa melayang, hingga tujuh Pahlawan Revolusi diculik dan dibunuh.

Kemudian, mayatnya dibuang ke sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Setelah upaya pemberontakan PKI berhasil digagalkan, mayat para Pahlawan Revolusi berhasil ditemukan dalam kondisi memprihatinkan.

Delapan warga sekitar diperbantukan untuk menggali sumur tua di Lubang Buaya. Dalam video yang diunggah akun Kurator Museum di YouTube menampilkan wawancara kepada salah satu penggali makam yakni Yusuf pada 1998.

Yusuf menceritakan, saat menggali Lubang Buaya dirinya masih berusia 16 tahun. Awalnya, pada pulul 15.00 WIB, Yusuf yang merupakan anggota Hansip diminta Lurah untuk membantu membetulkan jembatan dan tak tahu jika bakal menggali Lubang Buaya.

Yusuf bergegas naik ke mobil pak Lurah yang menjemputnya dan menuju lokasi sambil menenteng cangkul. Sesampainya di lokasi, ia melihat banyak tentara bersenjata dengan baret merah dan melihat tujuh kawannya sedang memacul kebon.

“Di situ saya lihat ada Bang Ambar Suparyono, Mahmud, Mawih, saya datang ama Pane,” kata Yusuf sebagaimana dikutip Okezone dari YouTube Kurator Museum beberapa waktu lalu.

Hingga akhirnya mereka menemukan sumur selebar 4 meter yang sebelumnya ditumpuk tanah. Tentara berbaret merah memerintahkan untuk terus menggali.

Pada kedalaman tertentu mereka menemukan isi sumur berupa sayuran, potongan kain merah, kuning, hijau. “Terus ada serombongan datang bilang persisnya di sumur ini. Saya enggak tahu siapa, berpakaian tentara, ada juga pakaian coklat, enggak tau siapa,” imbuhnya.

Yusuf bersama rekannya terus menggali sumur hingga akhirnya waktu gelap. Lantaran kelelahan, ada yang hampir pingsan. Terang saja, karena tak makan ataupun minum.

"Mawi dari bawah (sumur) udah lemes setengah pingsan, kita dari siang kan. Namanya minum makan enggak, tentara juga enggak sama,” ujarnya.

Setelah hampir jam 11 malam menggali sumur, mereka menemukan sampah berupa daun kering, abu, potongan bujur, kayu kecil hingga sampah basah lagi. Sekitar jam 23.30 atau stengah 12 malam, salah satu kawannya menemukan penampakan jari manusia.

Kemudian, melaporkan tentara terkait penemuan tersebut. Ketika waktu menunjukan setengah satu dini hari, Yusuf bersama tujuh temannya diminta berisitirahat oleh tentara. Mereka dibawa ke sebuah rumah untuk makan dan diberikan kopi.

“Makan nasi basi sambil ngobrol dikasih kopi, dikasih makan tapi nasi udah basi,” ujarnya.

Mereka tak tahu yang mereka gali adalah tempat pembuangan jasad Pahlawan Revolusi, Yusuf hanya ingat ada kejadian menarik, salah satu temannya, Pane kesurupan terus menangis.

“Dan dari kejauhan kita melihat panser masuk (ke lokasi). Pasukan item-item, pasukan katak terus melakukan penggalian. Kemudian, kita mendengar melihat beberapa petugas tadi yang jalan-jalan cari air cuci tangan basah karena lumpur, kabarnya ngangkat mayat,” ujarnya.

Usai berhasil menemukan mayat 6 jenderal dan satu perwira pertama, para tentara akhirnya pergi dari Lubang Buaya. Ketujuh Pahlawan Revolusi yang menjadi korban yakni, Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani; Mayor Jenderal Raden Soeprapto; Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono; Mayor Jenderal Siswondo Parman; Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan; Brigadir Jenderal Sutoyo Siswodiharjo; serta Lettu Pierre Andreas Tendean.

(Arief Setyadi )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya