BLITAR – Kerajaan Mataram Islam berupaya mempertahankan kekuasaan di tanah Jawa. Mereka pun memiliki strategi sendiri yakni lewat politik bahasa.
Sultan Agung Hanyokrokusumo berupaya keras mengokohkan kekuasaan yang diwarisi dari Panembahan Senopati. Apalagi, sebagai dinasti baru di tanah Jawa, yakni setelah tenggelamnya kerajaan Pajang dan Demak,
Sultan Agung Hanyokrokusumo menciptakan unggah-ungguh (etika) bahasa Jawa ngoko-krama untuk melanggengkan kekuasaannya.
Unggah-ungguh bahasa Jawa ngoko-krama telah membuat jarak sosial seperti keinginan penguasa Mataram. Hal itu sekaligus memperlihatkan betapa unggulnya, jayanya sekaligus besarnya dinasti Mataram.
“Alat untuk menciptakan jarak sosial ini antara lain dengan pengembangan tataran bahasa Jawa ngoko-krama,” demikian dikutip dari buku Sejarah Nusantara Yang Disembunyikan (2019).
Mataram semula hanya sebuah wilayah kabupaten di bawah kekuasaan kerajaan Pajang. Namun, telah berubah menjadi kerajaan yang kebesarannya harus senantiasa terjaga.
Sultan Agung terlahir dengan nama Raden Mas Jatmika atau Raden Mas Rangsang pada 1593. Ia berkuasa atas Mataram selama 32 tahun (1613-1645).
Sepanjang berkuasa, Sultan Agung terus memperjuangkan kejayaan Mataram. Bahkan, dirinya bukan hanya mencapai kejayaan politik, namun juga kejayaan kebudayaan. Sebelum era Mataram Islam, yakni terutama pada masa Sultan Agung, bahasa Jawa belum mengenal tata bahasa.