Strategi Dinasti Mataram Langgengkan Kekuasaan Lewat Politik Bahasa

Solichan Arif, Jurnalis
Rabu 01 November 2023 07:18 WIB
Sultan Agung Hanyokrokusumo (Foto: Wikipedia)
Share :

BLITAR – Kerajaan Mataram Islam berupaya mempertahankan kekuasaan di tanah Jawa. Mereka pun memiliki strategi sendiri yakni lewat politik bahasa.

Sultan Agung Hanyokrokusumo berupaya keras mengokohkan kekuasaan yang diwarisi dari Panembahan Senopati. Apalagi, sebagai dinasti baru di tanah Jawa, yakni setelah tenggelamnya kerajaan Pajang dan Demak,

Sultan Agung Hanyokrokusumo menciptakan unggah-ungguh (etika) bahasa Jawa ngoko-krama untuk melanggengkan kekuasaannya.

Unggah-ungguh bahasa Jawa ngoko-krama telah membuat jarak sosial seperti keinginan penguasa Mataram. Hal itu sekaligus memperlihatkan betapa unggulnya, jayanya sekaligus besarnya dinasti Mataram.

“Alat untuk menciptakan jarak sosial ini antara lain dengan pengembangan tataran bahasa Jawa ngoko-krama,” demikian dikutip dari buku Sejarah Nusantara Yang Disembunyikan (2019).

Mataram semula hanya sebuah wilayah kabupaten di bawah kekuasaan kerajaan Pajang. Namun, telah berubah menjadi kerajaan yang kebesarannya harus senantiasa terjaga.

Sultan Agung terlahir dengan nama Raden Mas Jatmika atau Raden Mas Rangsang pada 1593. Ia berkuasa atas Mataram selama 32 tahun (1613-1645).

Sepanjang berkuasa, Sultan Agung terus memperjuangkan kejayaan Mataram. Bahkan, dirinya bukan hanya mencapai kejayaan politik, namun juga kejayaan kebudayaan. Sebelum era Mataram Islam, yakni terutama pada masa Sultan Agung, bahasa Jawa belum mengenal tata bahasa.

Bahasa yang dipakai rakyat Jawa tidak terstrata. Kelas-kelas sosial yang ada, yakni di dalamnya termasuk kaum kromo dan priyayi, memakai bahasa yang setara.

Alat komunikasi yang digunakan adalah bahasa Jawa kuno, yakni percampuran antara bahasa pribumi dengan bahasa sansekerta, yang dalam perkembangannya kemudian lahir kata-kata Kawi.

Situasi etimologis itu dipengaruhi oleh tradisi Hindu yang merupakan peninggalan masa Kerajaan Majapahit. Dengan bahasa Jawa ngoko-krama, penguasa Mataram berusaha menanamkan pengaruhnya melalui jalan kebudayaan.

Adanya jarak sosial sebagai hasil dari eksistensi bahasa Jawa ngoko-krama bertujuan untuk mengembangkan kekuasaan. Jarak sosial akan memudahkan Mataram melakukan konsolidasi terkait dengan kedudukannya. Sebab, tata bahasa ngoko-krama juga menjadi norma pergaulan di masyarakat.

Selain itu, berfungsi sebagai tata unggah-ungguh sekaligus untuk menyatakan rasa hormat dan keakraban. Muncul situasi sosial yang dilekati dengan norma kesopanan.

Pemakaian ngoko-krama sebagai alat politik kekuasaan tidak lepas dari kesadaran historis sosial, bahwa pendiri dinasti Mataram berasal dari kalangan petani.

Dalam konsep sosial Hindu (kasta), dengan mengubah Mataram yang semula wilayah kabupaten menjadi kerajaan, pendiri dinasti Mataram telah mengalami peningkatan kelas sosial.

“Dinasti Mataram mengalami mobilitas dari Waisya ke Ksatria,” demikian seperti dikutip dari Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapan oleh raja Mataram (1987).

Seiring dengan munculnya unggah-ungguh bahasa Jawa ngoko-krama, sastra babad di masa Mataram juga berkembang pesat. Babad ditulis oleh para pujangga keraton.

Penulisan babad dengan memakai bahasa Jawa halus bertujuan untuk memuliakan raja yang memerintah sekaligus menghormati kalangan atas. Sultan Agung diketahui memiliki peranan penting dalam pengembangan sastra babad.

Pada tahun 1626 Masehi, ia memerintahkan penulisan babad. Perintah itu kembali muncul pada 1633 Masehi, yakni setelah kegagalannya menyerang Batavia (Jakarta) pada 1628 dan 1629.

Sultan Agung sadar betapa sastra babad dapat dimanfaatkan sebagai alat politik kekuasaan. Semua itu dilakukan untuk melanggengkan kekuasaan Dinasti Mataram.

(Arief Setyadi )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya