JAKARTA - Pada era Perang Dingin, banyak spekulasi muncul tentang hubungan antara Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan Uni Soviet. Beberapa berpendapat bahwa PKI mendapat dukungan kuat dari Uni Soviet, sementara yang lain berpendapat bahwa hubungan ini lebih kompleks. Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita telaah lebih dalam.
Uni Soviet menjalin hubungan diplomatik dengan Indonesia pada tahun 1950. Mereka menjadi salah satu negara yang awal awal mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia dari Belanda setelah berakhirnya Perang Dunia II.
Selama awal periode Perang Dingin, hubungan antara kedua negara tersebut berkembang erat. Presiden Indonesia, Soekarno, mengunjungi Moskow, sementara pemimpin Soviet, Nikita Khrushchev, melakukan kunjungan resmi ke Jakarta. Kesepakatan militer pertama antara Indonesia dan Uni Soviet terjadi pada tahun 1958, yang melibatkan impor truk GAZ-69 buatan Soviet ke Indonesia.
Pada tahun 1960, Jenderal Abdul Haris Nasution mengunjungi Moskow untuk menjalani perundingan terkait kesepakatan senjata antara Indonesia dan Uni Soviet. PKI adalah sebuah partai politik yang beroperasi di Hindia Belanda, yang pada akhirnya dinyatakan ilegal dan dibubarkan.
PKI menganut paham ideologi Marxisme-Komunisme, yang pada saat itu ideologi ini mengalami kejayaan di Uni Soviet. PKI pernah menjadi salah satu partai komunis terbesar di dunia setelah Uni Soviet dan Tiongkok, namun kemudian mengalami kehancuran pada tahun 1965 dan dilarang pada tahun berikutnya.
PKI mempunyai basis kuat dalam sejumlah organisasi massa, seperti SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakjat, Gerwani, Barisan Tani Indonesia (BTI), Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) dan Himpunan Sardjana Indonesia (HSI).