Ternyata, persaingan sengit tak hanya terjadi di dalam dinding istana. Bahkan, para calon selir yang akan dibawa menuju keraton juga memiliki semacam seleksi yang menjadikan mereka semacam komoditas.
BACA JUGA:
Cukup memprihatinkan karena tidak semua perempuan yang dibawa akan berhasil dijadikan sebagai selir oleh raja. Para calon selir yang tidak lolos seleksi biasanya ditempatkan di daerah terpencil, sehingga rawan dalam perjalanan untuk terjadinya praktik prostitusi atau pergundikan.
BACA JUGA:
Di masa kolonialisme Belanda, beberapa kabupaten di Jawa Timur yang dikenal menjadi daerah mayoritas selir raja berasal justru kian bergeser menjadi daerah pemasok praktik prostitusi yang ramai diperbincangkan.
Ternyata, persepsi bahwa perempuan dari Jawa Timur yang dikenal memiliki paras anggun dengan sifat lemah lembut menjadi salah satu alasan kenapa Raja Mataram menjadikan mereka sebagai selirnya. Meskipun begitu, tujuan utamanya dalam memiliki selir adalah untuk mempertahankan kekuasaannya melalui perkawinan politik.
(Fakhrizal Fakhri )