Kesaksian Tokoh Ansor saat G30S : PKI Dengar Suara Takbir Langsung Kabur Pontang-panting

Solichan Arif, Jurnalis
Kamis 16 November 2023 05:01 WIB
Tokoh Ansor, Chuldori Hasyim (foto: MPI/Solichan)
Share :

CHULDORI HASYIM (83), mantan Pimpinan Ansor Nahdlatul Ulama (NU) Blitar menceritakan sejarah saat adanya penculikan tujuh Jenderal terkait G30SPKI. Ia pun mengakui, jika informasi tersebut diterima di Jawa Timur terlambat.

"Kita memang terlambat menerima kabar adanya Gerakan 30 September 1965. Memang saat itu tidak banyak saluran informasi seperti sekarang," ujar Chudlori dengan lantang, saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, pada 2015 silam.

Chudlori, sosok lansia yang perawakanya jangkung, tinggi, dan besar dibanding kebanyakan orang Indonesia. Nada bicaranya lantang. Setiap kalimat yang terucap penuh dengan tekanan. Ia juga masih piawai melontarkan candaan. Guyonan khas warga nahdliyin.

"Ansor Zaman 1965 jelas lebih kuat dan gagah. Tidak seperti Ansor zaman sekarang," ucapnya.

Diketahui, Ayah empat anak dan kakek enam cucu itu adalah salah satu penggagas sekaligus pendiri Barisan Ansor Serba Guna (Banser) NU. Walau secara umum sehat, sebuah tongkat penyangga menopang kaki kirinya. Tongkat alumunium dengan bagian atas sebagai penumpu ketiak itu yang menemani Chudlori kemana pun ia pergi.

Langkahnya tampak tertatih. Begitu juga saat keluar dari kamar menuju ruang tamu. Suatu ruang yang bersih dan tertata. Figura bergambar bumi bertuliskan tinta emas Nahdlatul Ulama (NU) menghias dinding ruangan. Di sebelahnya tampak jam tembok dan sejumlah foto keluarga. Ia juga mengenakan alat bantu pendengaran. Piranti digital berwarna putih itu terpasang di daun telinga kanannya.

Bersama delapan pimpinan Ansor Blitar lain, Chudlori memutuskan membentuk Banser. Yakni suatu kekuatan para militer untuk menjawab aksi sepihak PKI dan organisasi sayapnya. Peristiwa itu terjadi pada 14 April 1964 dan ditandai sebagai harlah Banser NU.

Kesembilan pimpinan Ansor Blitar itu adalah Zaenudin Kayubi atau Moch Zein Kayubi, KH Abdurrochim Sidik, M Romdhon, Zaenuri Acham, Atim Yanto, Chudlori, Moch Fadhil, H Supangat, dan H Ali Muhsin.

Rapat sembilan orang itu berlangsung di Markas Ansor di Jalan Semeru, Kota Blitar. Yakni suatu bangunan yang awalnya rumah milik seorang keturunan Tionghoa. Usulan nama Banser datang dari Kayubi. Ia mengejawantahkan kata dari multi fungsi, banyak guna, serba guna. Karenanya, Kayubi langsung didaulat sebagai Ketua.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya