JAKARTA - Dikenal sebagai pembelot Hamas dan mata-mata Israel, Mossab Hassan Yousef merupakan putra pendiri Hamas, Sheikh Hassan Yousef.
Menurut berbagai sumber, pria kelahiran Ramallah, 5 Mei 1978 adalah mantan militan Palestina yang bertugas memantau gerak-gerik terkait konflik yang terjadi di Gaza.
Mossab Hassan merupakan anak sulung dari lima saudara laki-laki dan tiga saudari perempuan. Saat dibesarkan, ia tersanjung dengan anak-anak Palestina di Tepi Barat sehingga ia berkeinginan menjadi pejuang.
Mengutip Whittier Edu, sejak kecil ia membantu ayahnya dalam kegiatan politiknya sambil mempersiapkan dirinya menjadi ahli waris dan kekuasaan di Hamas.
Di usianya ke-10 tahun, ia pernah ditangkap pada Intifada Pertama karena melempar batu kepada para pemukim Israel.
Pernah suatu ketika ia mendapati Hamas menggunakan warga sipil dan anak-anak sebagai tameng. Akibatnya ia mulai ragu akan Islam dan Hamas.
"Hamas adalah sebuah gerakan kekerasan. Mereka hanya bisa mengungkapkan ekspresinya melalui kekerasan dan terorisme," ujar Yousef.
Pada 1996 ia ditangkap oleh agen Shin Bet. Mengamati cara kerja agen, ia terkejut karena lebih manusiawi dibandingkan cara para anggota Hamas yang menyiksa orang-orang satu penjara dengannya. Sejak kejadian itu ia memutuskan bergabung pada Shin Bet dan menjadi mata-mata.
Pada 1997, Mossab Hassan dibebaskan dari penjara dan menjadi sumber Shin Bet yang bisa diandalkan. Dijuluki 'Pangeran Hijau' karena warna bendera asalnya terdahulu, Islam dan pangeran dari silsilah keluarga pendiri Hamas.
Secara diam-diam, ia berpindah keyakinan menjadi seorang Kristiani dan memata-matai Hamas untuk Israel pada 1997 dan 2007. Intelijennya mencegah ragam serangan, salah satunya bom bunuh diri.
Semuanya berubah ketika ia mengungkapkan informasi organisasi teroris, perpisahan dengan keluarga dan tanah airnya, hingga memberitahuan keyakinan akan Kristen.
Pada Maret 2010, ia menulis otobiografi 'The Son of Hamas' yang menceritakan kisah hidupnya dari membenci menjadi mencintai orang Yahudi. Dalam buku itu juga menceritakan kisah dalam organisasi teroris.
Ia pindah ke Amerika Serikat (AS) dan menjadi orang buangan ketika buku pertamanya diedarkan. Tidak ada pemerintah, bahkan Israel, yang mau mengakui karyanya. Tidak ada gereja yang mau menerimanya.
Akhirnya ia mendapatkan suaka, pengakuan karya, hingga tinggal menetap atas bantuan pemerintah AS.
Bekerja sama dengan aktor dan produser film AS, Sam Feuer, ia mengadaptasi buku otobiografinya menjadi film berjudul The Green Prince. Film tersebut perdana tayang pada Festival Film Sundance 2014 dan memenangkan Penghargaan Audien untuk Sinema Dunia Dokumenter.
Pada 2015 di Whittier College, Mossab Hassan kisah hidupnya dalam buku otobiografi dan film dokumenter.
(Rahman Asmardika)