Kebijakan Sewa Tanah Bikin Orang Pribumi Benci pada Tionghoa dan Eropa

Avirista Midaada, Jurnalis
Jum'at 01 Desember 2023 05:38 WIB
Ilustrasi (Foto : Freepik)
Share :

Persoalan ini paling mencolok terlihat di Kedu, daerah yang pernah menjadi salah satu daerah tanah jabatan keraton paling makmur di Jawa tengah. Kedu merupakan daerah dimana pada masa setelah 1816 dibuka sejumlah perkebunan kopi yang sangat luas.

Pada tahun 1827, luas areal tanaman kopi ini sudah meliputi hampir tiga perlima dari seluruh dataran tinggi Kedu. Berkembangnya kebencian para petani penggarap di distrik Kedu, disebabkan karena beratnya kerja rodi di perkebunan-perkebunan kopi, yang nanti akan berakibat pada luasnya dukungan lokal bagi Diponegoro selama Perang Jawa.

Putra termuda bupati Semarang Suro-Adimenggolo IV, yaitu Raden Mas Sukur, membeberkan laporan yang begitu hidup tentang kesulitan besar penghidupan penduduk akibat gagalnya panen tembakau di tahun 1823

Selain itu, serangan hama tikus pada tanaman padi di tahun 1819 dan 1822 membuat tanaman padi banyak yang hancur. Akibatnya penduduk terpaksa makan dedaunan dan rerumputan. Raden Mas Sukur mengingatkan, suatu pemberontakan rakyat akan meledak dalam tempo tidak lama lagi.

Peringatannya ini menjadi kenyataan pada bulan Juli 1825 ketika sekitar 35.000 penduduk di selatan Probolinggo, bangkit melakukan perlawanan massa setelah kegagalan total panen tembakau dan datangnya berita tentang pemberontakan Diponegoro di Yogya.

Target serangan mereka adalah orang-orang Eropa dan Tionghoa, pos-pos pajak tanah, gerbang cukai, serta rumah-rumah pengawas pajak dan pengawas perkebunan. Komunitas Tionghoa yang berdiam di situ harus lari menyelamatkan diri ke ibu kota provinsi, Magelang, dan ke daerah Pantai Utara Jawa.

(Angkasa Yudhistira)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya