Dyah Halayuda dianggap sebagai pembuat fitnah dan kerusakan politik Majapahit sehingga selain hukuman pemecatan, Dyah Halayuda juga dihukum oleh Jayanagara. Perseteruan antar wangsa kuat di Kerajaan Majapahit memang paling menyita perhatian Raja Jayanagara, karena Wangsa Rajasa yang merupakan saingan politiknya tetap mampu bertahan meskipun banyak pendukungnya sudah berguguran.
Konon Dyah Halayuda menjadi salah satu tumbal yang disebabkan perseteruan dua wangsa, yang mewakili dua kekuatan besar di Kerajaan Majapahit. Bahkan perlawanan itu juga hadir dari orang-orang terdekat Raja Jayanagara seperti dharmaputra sejumlah tujuh orang, yang salah satu di antaranya adalah Ra Kuti dan Ra Tanca.
Pemberontakan Ra Kuti sukses ditumpas oleh Gajah Mada, tetapi Majapahit gagal menumpas pemberontakan dari dharmaputra yang merupakan pendukung Wangsa Rajasa. Setelah itu, Ra Tanca yang merupakan tabib atau dokter istana Majapahit berhasil membunuh Jayanagara saat tengah mengobati sang raja akibat sakit raja singa yang dideritanya.
(Fahmi Firdaus )