Entitas ASEAN
Cruz juga mengusulkan Institut Leimena menjadi inisiator untuk membentuk jaringan berisi setidaknya lima lembaga berbasis agama yang bertujuan mengadvokasi kesadaran literasi keagamaan lintas budaya. Jejaring lembaga tersebut bisa mengajukan permohonan untuk menjadi entitas tersendiri di bawah ASEAN.
Selain itu, tambah Cruz, para pemimpin agama, cendekiawan, dan praktisi dari berbagai agama, harus didorong untuk menciptakan platform yang terbuka dan saling menghormati untuk mempromosikan dialog dan kolaborasi antaragama.
“Mohon maaf saya harus mengatakan banyak sekali birokrat ASEAN merasa isu toleransi beragama di ASEAN bukanlah suatu isu atau masalah, sebaliknya fakta yang diterima. Namun, kita tidak bisa memperkirakan yang akan terjadi 20 tahun ke depan dan perlu mengantisipasi berbagai kemungkinan yang bisa berdampak pada kawasan,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu'ti mengatakan, kawasan ASEAN selama ini disebut sebagai kawasan dengan masyarakat serumpun, namun sesungguhnya memiliki berbagai latar belakang agama dan budaya yang berbeda. Itu sebabnya, perlu dibangun kedekatan lewat berbagai jalur termasuk literasi keagaman lintas budaya.
“Pengalaman Indonesia bagaimana Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya bisa memberikan pengembangan kompetensi guru perlu direplikasi negara-negara ASEAN,” katanya.
Menurut Mu’ti, literasi keagamaan lintas budaya di Indonesia berkontribusi untuk membangun toleransi otentik karena tetap memelihara pluralitas agama dan budaya masing-masing negara. Inisiatif tersebut juga bisa menjadi gerakan baru di ASEAN, sehingga kawasan ini tidak hanya lebih banyak bicara tentang ekonomi dan politik, tetapi juga masalah perdamaian dan kerukunan.
Wakil Indonesia untuk Komisi HAM Antarpemerintah ASEAN (AICHR), Yuyun Wahyuningrum, mengatakan literasi keagamaan lintas budaya bisa memberikan perspektif keberagaman yang baru, yaitu bukan hanya terkait ibadah semata melainkan memahami peran agama dalam berbagai isu seperti perubahan iklim. “Pilar kebudayaan ASEAN bisa menjadi rumah dari insiatif literasi keagamaan lintas budaya,” kata Yuyun.
Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, menambahkan Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya yang dikembangkan Institut Leimena dan berbagai lembaga mitra di Indonesia telah diikuti lebih dari 6.000 guru baik dari madrasah maupun sekolah, penyuluh agama, dai dan daiyah.
“Program ini kemudian ternyata mulai menarik perhatian dari luar negeri, karena banyak tantangan serupa dalam masyarakat majemuk di negara-negara. Utamanya adalah bagaimana mengatasi masalah prejudice, stereotip negatif terhadap yang berbeda, apalagi ketika ditambah masuknya ajaran-ajaran agama yang bersifat eksklusif, anti perbedaan, bahkan ekstrem,” ujar Matius.
(Awaludin)