Kisruh Tas Dior Ibu Negara Korsel Guncang Kepemimpinan Presiden Yoon Suk Yeol

Susi Susanti, Jurnalis
Jum'at 26 Januari 2024 15:58 WIB
Kisruh tas Dior Ibu Negara Korsel guncang kepemimpinan Presiden Yoon Suk Yeol (Foto: Voice of Seoul/YouTube)
Share :

SEOUL Kontroversi mengenai dugaan Ibu Negara Korea Selatan (Korsel) Kim Keon Hee menerima hadiah tas mewah Dior telah membuat Partai Kekuatan Rakyat (PPP) yang berkuasa menjadi kacau balau.

Rekaman kamera mata-mata yang dirilis akhir tahun lalu menunjukkan seorang pendeta memberikan tas Dior kepadanya.

Beberapa analis mengatakan skandal itu mengancam prospek partai Presiden Yoon Suk Yeol dalam pemilu pada April mendatang.

Menurut jajak pendapat, para pemilih menginginkan penjelasan dari Yoon. Sedangkan pihak oposisi menggunakan isu tersebut untuk menyerangnya.

Video tersebut, yang dipublikasikan oleh saluran YouTube sayap kiri Voice of Seoul, dilaporkan direkam secara diam-diam oleh pendeta Choi Jae-young menggunakan kamera yang tertanam di jam tangannya.

Choi terlihat berjalan ke toko untuk membeli tas kulit anak sapi berwarna biru keabu-abuan, dengan tanda terima menyebutkan harganya sebesar 3 juta won atau USD2.200.

Choi kemudian mengunjungi Covana Contents, sebuah perusahaan di Seoul yang dimiliki oleh ibu negara, di mana Ibu Negara Kim kemudian bertanya kepada pendeta, "Mengapa Anda terus membawakan saya barang-barang ini?"

Menurut media setempat, tas tersebut diduga diberikan kepada ibu negara pada September 2022.

Meskipun video tersebut tidak secara eksplisit menunjukkan Kim menerima hadiah tersebut, namun Korea Herald melaporkan bahwa kantor kepresidenan mengkonfirmasi penerimaan tas tersebut dan mengatakan bahwa tas tersebut dikelola dan disimpan sebagai milik pemerintah.

Video cuplikan tersebut disajikan grup tersebut di Youtube. Judul video tersebut berbunyi: 'Ibu Negara menerima hadiah mewah' dan 'Ibu Negara, Dior dan Kamera Tersembunyi'

Kantor berita Yonhap mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa kantor kepresidenan Yoon dilaporkan berencana untuk mengatasi masalah ini secepatnya pada bulan ini.

Sebuah jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan bahwa 69% pemilih yang memenuhi syarat di negara itu menginginkan penjelasan dari presiden mengenai tindakan istrinya. Jajak pendapat sebelumnya pada Desember 2023 menunjukkan 53% responden percaya bahwa perilakunya tidak pantas.

Skandal ini meledak hanya tiga bulan sebelum pemilihan legislatif Korea Selatan. Hal ini juga terjadi ketika tingkat persetujuan terhadap Yoon telah meningkat setelah terus menurun selama setahun terakhir.

Analis politik yang berbasis di Seoul, Rhee Jong-hoon, menggambarkannya sebagai "ledakan politik".

“Risiko Kim Keon Hee akan semakin besar,” katanya kepada kantor berita Reuters.

Undang-undang Korea Selatan melarang pejabat publik dan pasangannya menerima hadiah senilai lebih dari 1 juta won sekaligus, atau total 3 juta won dalam satu tahun fiskal.

Partai oposisi, Partai Demokrat, juga memanfaatkan masalah ini untuk menyerang Yoon dan partainya.

“Tidak masuk akal bagi kantor kepresidenan dan partai berkuasa untuk terus mengabaikan hal ini dan berbicara seolah-olah permintaan maaf akan mengakhiri masalah ini,” kata pemimpin oposisi Hong Ik-pyo.

Dan minggu lalu, Kim Kyung-yul, pemimpin PPP lainnya, membandingkan ibu negara dengan Marie Antoinette, ratu Prancis terkenal karena perilakunya yang boros.

Ini adalah yang terbaru dari serangkaian kontroversi seputar ibu negara Korea Selatan yang berusia 51 tahun.

Pihak oposisi telah lama menuduh Kim terlibat dalam manipulasi harga saham. Awal bulan ini, Yoon memveto rancangan undang-undang yang meminta istrinya diselidiki atas tuduhan tersebut.

Tahun lalu, pemerintah Seoul membatalkan proyek jalan tol di tengah tuduhan bahwa pembangunannya akan menguntungkan keluarga Kim secara finansial dengan menaikkan harga tanah yang mereka miliki.

Skandal ini juga menyebabkan perpecahan di dalam partai Yoon.

Presiden dilaporkan telah mendorong pemimpin partainya Han Dong-hoon untuk mengundurkan diri setelah Han berkomentar bahwa kontroversi tersebut dapat menjadi perhatian publik.

"Pada dasarnya, masalah ini merupakan rencana yang menggunakan kamera mata-mata. Namun, ada beberapa kesalahan dalam menangani masalah ini," tulis Korea Times mengutip perkataan Han.

Kedua pria tersebut tampaknya telah memperbaiki hubungan mereka dan Han tetap berada di partai tersebut.

Profesor ilmu politik Universitas Sogang, Kim Jae-chun, mengatakan kepada The Straits Times, reaksi awal Yoon bisa saja berdampak buruk secara politik.

"Apakah dia, karena kesal, menelepon kepala stafnya, dan berkata, 'Pergi saja' ke orang itu. Maksudku, kamu hanya punya waktu 77 hari lagi menuju pemilu [seperti pada 24 Januari]," terangnya.

Adapun Han secara luas dianggap sebagai anak didik dan rekan dekat Yoon dan diperkirakan akan menjadi calon presiden pada 2027.

(Susi Susanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya