Bujukan Penghulu Bikin Pangeran Diponegoro Ditangkap Belanda

Avirista Midaada, Jurnalis
Sabtu 03 Februari 2024 05:47 WIB
Illustrasi (foto: dok Okezone)
Share :

PANGERAN Diponegoro menjadi buronan Belanda setelah di akhir tahun 1829. Sang pangeran terpaksa keluar masuk hutan belantara bersama dua punakawan atau pengiring Bantengwerang dan Roto. Di tangan kedua pendampingnya inilah sang pangeran juga dipenuhi kebutuhannya.

Sang pangeran terus memasuki hutan belantara di sebelah barat Bagelen. Hujan panas, rasa sakit akibat serangan malaria dan luka di kakinya tak dia hiraukan. Tekadnya untuk terus melarikan diri dan tak menyerah kendati telah diambang kekalahan jadi modalnya.

Tetapi seorang jenderal Belanda Cleerens mencoba membujuknya untuk berdiskusi membuka pembicaraan dengan Belanda. Berulang kali Cleerens mengirimkan surat ke Pangeran Diponegoro, tapi berulang kali pula sang pangeran menolak membaca surat dari Cleerens.

Peter Carey pada bukunya "Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro: 1785 - 1855", pertahanan diri Pangeran Diponegoro akhirnya pupus setelah seorang kawan lamanya, yang juga penghulu pangeran, Kiai Pekih Ibrahim membujuknya. Sang tokoh agama ini diutus untuk bertemu Cleerens dan mengundang Pangeran Diponegoro di Remokamal, di hulu Kali Cingcingguling, pada Selasa 16 Februari.

Bahkan Belanda telah menyiapkan penyambutan sang pangeran dengan meminta kain hitam yang cukup bagi sekitar 400 prajurit, uang tunai 200 gulden, satu payung emas kebesaran untuk menandai kepulangan status Pangeran Diponegoro sebagai sultan. Dua pasang gunting cukur untuk keperluan dirinya dan para prajurit pangeran juga telah disiapkan.

Pertemuan antara Pangeran Diponegoro dengan sang Cleerens pada 16 Februari di Remokamal terlaksana. Pertemuan keduanya berlangsung cukup lancar dan akrab, namun dalam negosiasi ini tidak ada satu pasal persyaratan pun yang disepakati kedua belah pihak. Sang pangeran datang dengan sejumlah pengawal dan panglima tentaranya, Kiai Ageng Bondoyudo, dan berada di depan untuk menolak bala.

Cleerens datang terlambat tetapi memberlakukan Pangeran Diponegoro dengan penuh hormat. Ia turun dari kuda di tempat yang agak jauh dari pesanggrahan dan berjalan kaki sambil melepaskan topi kavalerinya, meski di tengah terik matahari. Pertemuan keduanya dalam suasana akrab, keduanya bertukar lelucon, sang pangeran bahkan mengatakan ia tidak minta disambut dengan tembakan kehormatan salvo dari Belanda, karena selama perang Belanda telah melepaskan lebih dari 100.000 kali tembakan untuk menghormatinya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya