PANEMBAHAN Senopati menjadi raja pertama di Kesultanan Mataram islam. Ia mewarisi ayahnya Ki Pamanahan, mengenai Alas Mentaok pemberian dari Sultan Hadiwijaya penguasa Pajang. Menariknya, lambat laun perkembangan Mataram yang pesat membuat akhirnya Panembahan Senopati tak lagi mau menghormati Pajang.
Perintah untuk menghadap ke Sultan Hadiwijaya usai satu tahun memimpin Mataram ditunjuk oleh penguasa Pajang, tidak ia hiraukan. Padahal secara wilayah Mataram merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Pajang.
Bahkan Panembahan Senopati membangun kekuatan militer di Mataram guna mengantisipasi serangan sewaktu-waktu dari Kerajaan Pajang.
Sang penguasa Pajang pun terpaksa mengirimkan utusan untuk menanyakan ke Senopati. Dua utusan itu yakni Ngabehi Wila Marta dan Ki Wuragil, yang datang ke wilayah Mataram untuk memenuhi permintaan Sultan Hadiwijaya.
Setibanya di Mataram, Senopati justru tak ada. Ia memang tengah berkunjung ke Lipura. Alhasil kedua utusan Pajang itu pun menyusul Panembahan Senopati ke Lipura. Dikutip dari "Tuah Bumi Mataram : Dari Panembahan Senopati hingga Amangkurat II", mereka segera menyusul Senopati yang sedang berada di atas kudanya.
Ia tampak tak peduli ketika melihat kedatangan dua utusan dari Pajang itu. Sempat terjadi perdebatan antara ketiganya, bahkan Wuragil yang sempat mengajak Wila Marta turun dari kuda dilarangnya. Menurut Wila Marta, mereka jangan sampai turun dari kuda sebelum Senopati turun dari kudanya terlebih dahulu.
Setelah sempat terjadi perdebatan antara ketiganya. Akhirnya sang utusan itu menyampaikan pesan ke Senopati dari Sultan Hadiwijaya penguasa Pajang. Di mana sang Penguasa Pajang itu meminta Senopati untuk berhenti foya-foya, berhenti mengumbar hawa nafsu, makan-minum, mabuk-mabukan, dan bercukur rambut lalu sowan ke Pajang.