Kisah Jenderal Benny Moerdani yang Berjanji Enggan Kenakan Baret Merah Lagi

Awaludin, Jurnalis
Kamis 07 Maret 2024 07:03 WIB
Jenderal TNI (Purn) LB Moerdani (foto: dok ist)
Share :

Entah siapa yang membocorkan. Kritik Benny Moerdani dalam rapat itu sampai ke telinga Ahmad Yani. Pada 4 Januari 1965 Benny dipanggil untuk menghadap ke Markas Besar Angkatan Darat (MBAD).

Dalam pembicaraan berbahasa Belanda, Yani menyalahkan Benny sekaligus menudingnya tidak beretika karena menyampaikan penilaian atas kebijakan komandannya.

Benny dimutasi ke Kostrad. Sementara Kolonel Moeng Parhadimoeljo dipindahkan ke Kalimantan. Sebelum dimutasi ke Kostrad, Benny Moerdani ternyata juga mempersoalkan pengangkatan Letkol Sarwo Edhie Wibowo sebagai komandan RPKAD menggantikan Moeng Parhadimoeljo.

Benny lebih setuju komandan RPKAD dijabat Letkol Widjojo Soejono, yakni dengan alasan lebih senior sekaligus berpengalaman daripada Sarwo Edhie. Namun Ahmad Yani lebih memilih Sarwo Edhie karena teman dekat dan sekaligus berasal dari satu daerah, yakni Purworejo Jawa Tengah.

Protes Benny terkait pengangkatan Sarwo Edhie membuat Ahmad Yani murka dan sontak memerintahkan Benny keluar dari RPKAD. Pengusiran Benny dari RPKAD membawa pengaruh besar atas sikapnya terhadap RPKAD.

Tiga jam setelah menerima perintah keluar dari RPKAD, ia langsung meninggalkan Cijantung. Di dalam hati Benny dengan geram berjanji tidak akan pernah mengenakan Baret Merah lagi.

“Saya sudah berjanji kepada diri sendiri bahwa saya tidak akan memakai Baret Merah lagi, setelah mereka mengusir saya dari Cijantung,” kata Benny Moerdani seperti dikutip dari Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009).

Janji dalam hati itu terpaksa dilanggar saat Benny Moerdani menjabat Panglima ABRI (sekarang TNI). Benny tengah menganugerahi gelar kehormatan Baret Merah kepada Yang Dipertuan Agong Malaysia Sultan Iskandar pada tahun 1985.

Setengah jam sebelum upacara seremonial digelar, di ruang kerja Komandan Kopassus, Sintong Panjaitan memberikan Baret Merah kepada Benny Moerdani. “Ini Baret Merah Bapak yang akan Bapak pakai dalam upacara nanti,” kata Sintong.

Baret Merah diterima Benny dengan wajah kurang suka. Benny mencoba memakainya sambil berdiri, namun tiba-tiba Baret Merah itu dilempar ke meja di depan Sintong Panjaitan dan jatuh ke lantai.

“Benny tidak mengucapkan sepatah kata pun, lalu duduk kembali”. Suasana di ruangan sontak mencekam. Oleh Sintong, Baret Merah itu diambil dan diletakkan di atas meja kerja.

Sebagai Komandan Kopassus Sintong Panjaitan mengatakan kepada Benny tidak sepantasnya melakukan hal demikian. Sebab bagaimanapun Benny Moerdani tidak bisa dipisahkan dari Korps Baret Merah.

Hal itu disampaikan Sintong saat Benny berjalan menuju kamar kecil. Meski masih menyimpan sakit hati, oleh Benny ucapan Sintong didengarnya. Saat upacara seremonial dimulai, Benny Moerdani bersedia mengenakan Baret Merah. Demikianlah cerita Jenderal Benny Moerdani yang pernah merasa sakit hati dengan Korps Baret Merah.

(Awaludin)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya