Inilah Sosok Raja Mataram yang Tak Pernah Memerintah Meski Sudah Naik Tahta di Usia 3 Tahun

Rina Anggraeni, Jurnalis
Sabtu 06 April 2024 07:30 WIB
Ilustrasi kisah raja mataram (Foto: Istimewa)
Share :

JAKARTA - Inilah sosok Raja Mataram yang tak pernah memerintah meski sudah naik tahta di usia 3 tahun. Dia bernama Gusti Raden Mas Gathot Menol lahir pada 24 Januari 1820.

Dia memiliki gelar sebagai Pangeran Mangkubumi Hamengkubuwono V adalah putra dari Sultan Hamengkubuwono IV dari permaisuri Gusti Kanjeng Ratu Kencono.

Inilah sosok Raja Mataram yang tak pernah memerintah meski sudah naik tahta di usia 3 tahun dikarenakan Belanda menurunkan Hamengkubuwono V dari singgasananya. Belanda mengangkat kembali Hamengkubuwono II, Hamengkubuwono V baru naik takhta kembali setelah wafatnya Hamengkubuwono II pada tahun 1828.

Pada saat pemerintahan Hamengkubuwono V tidak mendapat bantuan penuh dari internal Keraton dan rakyat Yogyakarta karena dianggap terlalu patuh kepada Belanda.

Pada saat itu juga Hamengkubuwono V juga selalu berhadapan dengan adik-adiknya yang ingin mengambil alih takhtanya. Ditengah kondisi politik yang sulit, Hamengkubuwono V mencari hiburan dalam cinta. Oleh karena itu ia memiliki banyak selir tetapi selir yang paling disayang yaitu selir ke 5 yang bernama Kanjeng Mas Hemawati.

Berikut inilah sosok Raja Mataram yang tak pernah memerintah meski sudah naik tahta di usia 3 tahun berdasarkan sejarah:

Sejarah mencatat bahwa Perang Jawa -peperangan terbesar yang dialami oleh pemerintah kolonial akibat perlawanan yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro, terjadi pada era kepemimpinan Sultan Hamengku Buwono V.

Banyak hal yang mengusik sang pangeran termasuk semakin banyak tanah-tanah keraton yang disewakan kepada orang Eropa, tingginya pajak yang ditarik dari masyarakat, munculnya wabah kolera, dan kondisi gagal panen yang dipandang sangat menyengsarakan. Ditambah sikap pegawai-pegawai Belanda banyak yang melecehkan keraton dengan memasukkan adat istiadat dan gaya hidup Eropa.

Disebut ‘Perang Jawa’ karena Pangeran Diponegoro berhasil mengobarkan perlawanan yang menggerakkan hampir seluruh penduduk berbahasa jawa di Pulau Jawa bagian tengah dan selatan.

Semakin besarnya kekuatan Diponegoro didukung pula oleh kelompok Islam yang terdiri atas para santri yang mengabdi di keraton (Suronatan, Suryagama), para pelajar dari pesantren-pesantren di wilayah perdikan serta kelompok lain yang dibawa oleh Kyai Mojo yang menjadi sekutu pangeran.

(Rina Anggraeni)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya