SPECIAL REPORT: Kisah American Dream, Tak Semulus Mimpi Hollywood

Susi Susanti, Jurnalis
Minggu 16 Juni 2024 11:24 WIB
Share :

CHINA - Sejak 2012, jumlah warga negara China atau Tiongkok yang mencari suaka terus meningkat, yakni total lebih dari 850.000 orang. Amerika Serikat (AS) adalah negara tuan rumah terbesar, dengan sekitar 88.000 pencari suaka asal Tiongkok dan 66.000 lainnya berstatus pengungsi.

Selama pandemi Covid-19, emigrasi Tiongkok meningkat secara keseluruhan, meningkat dari rata-rata 190.000 keberangkatan tahunan pada tahun 2010-an menjadi 310.000 pada tahun 2021 dan 2022. Menurut Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS, lebih dari 37.000 warga Tiongkok ditangkap karena melintasi perbatasan selatan AS secara ilegal pada 2023.

Jumlah tersebut hampir 10 kali lipat dari jumlah total pada tahun 2022 dan lebih dari dua kali lipat jumlah keseluruhan dekade sebelumnya. AS dianggap sebagai tujuan yang lebih menarik bagi sebagian migran Tiongkok, terutama pekerja berupah rendah karena pemulihan ekonomi yang kuat dari pandemi.

Meninggalkan Tiongkok adalah hal yang sulit, terutama bagi etnis minoritas dan kelompok yang teraniaya. Perjalanan dari Tiongkok dapat memakan waktu berbulan-bulan untuk perjalanan lintas benua dan dapat menghabiskan biaya hingga puluhan ribu dolar.

Melintasi delapan negara Amerika Latin untuk mencapai perbatasan selatan AS, para migran ini biasanya memulai perjalanan mereka di Ekuador, salah satu dari sedikit negara Amerika Latin yang menawarkan perjalanan bebas visa bagi warga negara Tiongkok.

Banyak juga yang terbang ke Istanbul atau Addis Ababa, yang tidak menimbulkan banyak masalah logistik, dan kemudian ke Ekuador. Dari sana, mereka melanjutkan ke Necoclí, sebuah kota di pantai utara Kolombia yang berfungsi sebagai landasan peluncuran untuk melintasi Darién Gap.

Yakni rute berbahaya berupa hutan lebat dan daerah rawa yang menghubungkan Amerika Tengah dan Selatan. Sepanjang perjalanan mereka, para migran ini terus-menerus menghadapi risiko perampokan, pelecehan, dan bahkan kematian. Perjalanan ini jelas tidak murah.

Habiskan Puluhan Ribu Dolar

Kejahatan terorganisir Tiongkok memainkan peran utama dalam emigrasi gelap dan telah menjalin hubungan yang lebih erat dengan kartel Amerika Latin yang mengendalikan rute migran. Rata-rata, biaya perjalanan dari Tiongkok ke perbatasan selatan AS antara USD10.000 dan USD20.000.

Hal ini sering kali melibatkan peminjaman uang dari geng-geng yang mengatur perjalanan tersebut dan membayarnya kembali beserta bunganya melalui pekerjaan di Amerika Serikat. Kesulitan mendapatkan visa AS sering disebut-sebut sebagai alasan untuk melakukan perjalanan yang mahal dan berbahaya tersebut.

Untuk melakukan perjalanan tanpa pemandu, para migran Tiongkok dilaporkan menghabiskan sekitar USD5.000 hingga USD7.000. Banyak dari mereka membayar biaya penyelundup hingga USD35.000, atau tiga kali lipat dari biaya yang biasanya dibayarkan oleh para migran dari Amerika Tengah atau Selatan.

Kemampuan untuk membayar biaya yang tinggi menunjukkan bahwa meskipun sebagian migran berasal dari latar belakang kelas pekerja, banyak juga yang berasal dari kelas menengah. Perjalanan juga tak selamanya mulus. Banyak penangkapan dari pemerintah AS. Di antara mereka yang ditangkap adalah pemilik usaha kecil, pendidik, dan bahkan mantan mahasiswa keuangan di Australia.

Mengapa Harus Eksodus ke AS?

Eksodus para warga China ini biasaya didorong oleh kombinasi ketidakpastian ekonomi dan kebebasan pribadi yang terbatas. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang melambat, yang diperburuk oleh pembatasan ketat Covid-19 selama hampir tiga tahun, telah mendorong banyak orang mencari peluang di luar negeri.

Tingkat pengangguran kaum muda perkotaan baru-baru ini mencapai rekor tertinggi yaitu 20,4 persen, empat kali lipat tingkat pengangguran nasional, sehingga lulusan baru mempunyai prospek yang terbatas. Pemilik usaha kecil juga menderita karena usaha mereka berjuang untuk bertahan selama periode lockdown dan lemahnya permintaan konsumen.

Menurunnya kebebasan sosial dan beragama adalah faktor utama migrasi lainnya, seiring dengan terus berlanjutnya tindakan keras terhadap hak-hak LGBTQ, gerakan feminis, dan praktik keagamaan. “Hal ini disebabkan oleh ketidakpastian politik dan ekonomi,” kata Min Zhou, seorang profesor sosiologi dan studi Asia-Amerika di Universitas California, Los Angeles.

“Telah terjadi penurunan perekonomian Tiongkok. Masyarakat menjadi pengangguran, dan terdapat ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah yang ketat,” lanjutnya. Ai Weiwei, seorang seniman dan aktivis pembangkang yang melarikan diri dari Tiongkok pada tahun 2015 karena penindasan, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa fenomena tersebut adalah tanda menurunnya kepercayaan terhadap pemerintah.

Sementara itu, dalam sebuah wawancara beberapa waktu lalu, mantan Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa warga negara Tiongkok yang tiba di AS dari perbatasan selatan kemungkinan sedang membangun pasukan. Para komentator sayap kanan berpendapat bahwa peningkatan kedatangan dan pencari suaka asal Tiongkok merupakan rencana memasukkan banyak mata-mata China ke AZ.

(Maruf El Rumi)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya